Senin, 30 Juni 2014

Fungsi Konsultan dalam Penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Dalam melakukan proses penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, perusahaan mengembangkan sistem yang paling efektif dan tepat sesuai dengan kebutuhannya.  Beberapa perusahaan dapat mengembangkan sendiri sistem Keamanan Pangan yang ada dalam perusahaan, namun tidak sedikit juga perusahaan mengembangkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Lalu apa manfaat menggunakan konsultan untuk mengembangkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan di dalam perusahaan?

Fungsi pertama, mengembangkan kompetensi sumber daya manusia

Dengan menggunakan konsultan yang berpengalaman, dimana kompetensi sumber daya manusia tersebut harus memastikan bahwa aspek pengalaman dan keahlian konsultan dapat diinformasikan kepada organisasi tersebut.

Fungsi kedua, pendampingan implementasi sistem

Selain mengembangkan kompetensi keahlian, konsultan juga dapat berperan untuk mengembangan sistem di dalam perusahaan.  Memberikan motivasi dan stimulus yang diharapkan dapat mengoptimalkan kinerja tim dalam menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.  Bagaimana pun juga, sistem adalah milik organisasi bukan hanya milik satu orang/ sekelompok orang dalam organisasi.

Fungsi ketiga, melakukan proses validasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Peranan konsultan sebagai bentuk salah satu referensi eksternal dapat dipergunakan untuk menjalankan proses validasi terhadap sistem manajemen keamanan pangan dalam perusahaan.  Peranan ini tidak mutlak namun dapat dipergunakan sebagai alternatif.

Bagaimana pengembangan Sistem Manajemen Keamanan Pangan di perusahaan Anda? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk pengembangan Sistem Manajemen Keamanan Pangan di perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Selasa, 24 Juni 2014

Pembuatan Sistem Pengelolaan Limbah pada Industri Pangan

Dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, industri diharapkan tidak hanya mempertimbangkan tahapan kerja operasional produksi saja.  Adanya tuntutan yang kuat terkait dengan proses penanganan limbah juga menjadi bagian yang kuat dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan dan terutama adalah oleh Peraturan Pemerintah.
Hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam proses penanganan limbah industri.

(a) Sistem Pemisahan Limbah
Harus dapat dipastikan bahwa penanganan limbah terpisah untuk mempermudah penanganan limbah pada tempat pembuangan limbah akhir.  Perusahaan dapat menetapkan SOP khusus yang terkait dengan proses penangan limbah.

(b) Sistem Penanganan Limbah Cair
Salah satu resiko terbesar pada industri pangan/ perikanan adalah status dari penanganan limbah yang dimaksud.  Seperti bagaimana waste water treatment dijalankan.  Memastikan bahwa mekanisme dari penanganan limbah tersebut secara tepat dapat menghasilkan limbah yang dapat sesuai dengan baku mutu lingkungan.

(c) Sistem recycle limbah
Perusahaan harus dapat memastikan adanya sistem recycle limbah yang tepat dapat memberikan dampak positif terhadap limbah.  Dimana limbah itu sendiri dapat dioptimalkan menjadi suatu produk yang layak untuk dijual atau ditingkatkan manfaatnya.

Bagaimana proses penanganan limbah di perusahaan Anda. Satu hal yang amat sangat perlu diperhatikan adalah bagaimana limbah tersebut tidak menyebabkan adanya kontaminasi silang.  Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan proses penanganan limbah di perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Senin, 23 Juni 2014

Pengendalian Peralatan Kerja dalam Industri Pangan

Penerapan GMP (Good Manufacturing Practice) bagi industri Pangan/ Perikanan adalah menjadi suatu persyaratan yang mendasar.  Dalam penerapan HACCP, aplikasi dari sistem GMP yang efektif dapat meminimalkan timbulnya kontaminasi silang terhadap produk.
Salah satu hal yang menjadi bagian penting dalam penerapan GMP adalah proses penggunaan dan pengendalian terhadap peralatan kerja yang digunakan pada area proses produksi.  Terdapat 5 catatan yang harus menjadi pertimbangan suatu industri berkaitan dengan proses penggunaan peralatan kerja yang dimaksudkan tersebut.

(1) Jenis dan Material Peralatan

Ada baiknya peralatan kerja yang digunakan untuk proses produksi tersebut adalah berasal dari kualitas material yang baik, tidak mudah rusak dan memberikan dampak kontaminasi silang terhadap proses produksi.  Namun apabila peralatan dengan kualitas yang dimaksud sulit ditemukan, industri dapat menggunakan peralatan yang ada dengan meminimalkan resiko dengan menggunakan checklist.  Namun yang perlu diperhatikan bahwa ini adalah alternatif terakhir.

(2) Pemeriksaan Kondisi Alat

Industri harus menciptakan sistem yang tepat dan sesuai untuk memastikan bahwa kondisi peralatan yang digunakan adalah masih layak untuk digunakan.  Proses pemeriksaan secara berkala harus dijalankan, dan apabila ditemukan peralatan dalam kondisi tidak memenuhi standar persyaratan maka peralatan yang dimaksudkan tersebut dapat diganti atau diperbaiki.

(3) Identifikasi Peralatan

Bagaimana kondisi peralatan harus dialokasikan sesuai dengan kode penempatan, penempatan peralatan harus dibedakan antara lokasi dengan status high risk dan low risk.  Dalam kondisi lain, pemisahan peralatan juga harus dipastikan terpisah apabila ada status allergent pada produk.

(4) Program Kebersihan

Peralatan kerja harus dipastikan terjadwal dalam sistem pengendalian program kebersihan.  Adanya jadwal dan schedule yang dapat diaplikasikan untuk program kebersihan tersebut diverifikasi dan dipastikan terjamin dalam pengawasan metode pembersihannya.

(5) Keamanan dari Resiko Toksin

Untuk peralatan kerja yang kontak langsung dengan produk pangan, sangat dipersyaratkan untuk meminimalkan resiko adanya toksin yang dapat mempengaruhi produk.  Adanya jaminan food grade menjadi pertimbangan utama bagi suatu industri dalam menggunakan peralatan yang kontak langsung dengan produk pangan.

Desain Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang tepat dan efektif dapat membantu perusahaan dalam mengoptimalkan organisasi dan kualitas produk.  Lakukan proses pencarian referensi eksternal terkait dengan pengembangan Sistem Manajemen Keamanan Pangan tersebut. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Sabtu, 21 Juni 2014

Memilih Sertifikasi Keamanan Pangan

Bagi industri pangan/ perikanan, pada saat ini banyak alternatif sertifikasi manajemen keamanan yang dapat dipergunakan.  Dimana hal ini dapat menjadi opsi pilihan yang menarik dan memberikan nilai jual terhadap industri pangan/ perikanan.  Lalu sistem manajemen sertifikasi mana yang akan dipilih oleh perusahaan?

(1) HACCP

Sertifikasi HACCP adalah sertifikasi dasar yang menjadi bagian penting pada industri pangan/ perikanan.  Dalam industri perikanan, sertifikasi HACCP adalah menjadi kewajiban dan juga didukung oleh Kementerian Perikanan. Dengan sertifikasi ini, perusahaan sudah mendapatkan jaminan bahwa sistem manajemen operasional dari perusahaan telah terjamin keamanannya.

(2) ISO 22000

ISO 22000 adalah sertifikasi yang berbasikan pengendalian terhadap keamanan pangan yang menyeluruh pada seluruh komponen dalam perusahaan. Jenis sertifikasi ini dapat memberikan jaminan lebih pada perusahaan, dimana pelanggan melihat adanya keseriusan secara total pada perusahaan dalam menetapkan standar sistem manajemen.  Apabila perusahaan sudah menjalankan Standar ISO 22000 maka sudah tidak diperlukan lagi memiliki sertifikasi HACCP, karena di dalam sistem ISO 22000 sudah termuat sistem HACCP.

(3) Sertifikasi GFSI

Selai ISO 22000, Global Food Safety Institue merekomendasikan sertifikasi FSSC, BRC dan IFS sebagai sertifikasi yang dipersyaratkan oleh beberapa perusahaan pangan besar.  ISO 22000 tidak menjadi prasyarat utama yang dipertimbangkan, hal ini lebih disebabkan karena Sistem Manajemen ISO 22000 tidak mengendalikan secara teknis pelaksanaan sistem manajemen keamanan pangan.  Faktor teknis yang terkait adalah kondisi infrastruktur, lay out, kompetensi sumber daya manusia serta persyaratan teknis lainnya.

Perusahaan sebaiknya melakukan proses pemilihan sertifikasi berdasarkan pada kebutuhan dan kepentingan dari pelanggan dan sasaran pasar yang akan dituju. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam pengembangan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Kamis, 12 Juni 2014

Training HACCP untuk Rumah Sakit, Hotel, Restoran dan Supermarket

Salah satu tantangan terbesar yang dimiliki oleh sektor food service seperti rumah sakit, hotel, restoran dan supermarket adalah bagaimana memastikan produk pangan yang akan dikonsumsi oleh konsumen aman dan sesuai dengan standar keamanan pangan.

Prinsip-prinsip keamanan pangan yang sebelumnya telah teraplikasikan di dalam industri pangan, ternyata menjadi bagian yang sangat kritikal ketika harus dilakukan proses adopsi di bidang food service.  Terdapat beberapa bagian proses yang aspeknya lebih dinamis muncul di food service. Sehingga menjadi sangat penting bagi personel yang bergerak di bidang food service untuk dapat memahami Sistem Manajemen Keamanan Pangan agar dapat diaplikasikan dengan baik dan tepat.

Program pelatihan HACCP yang khusus didesain untuk food service dapat memberikan manfaat terkait dengan pentingnya pemahaman yang berbeda pada industri food service dalam mengaplikasikan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Bermodelkan pelatihan dua hari dengan memadukan antara teori dan prakter, maka pihak perusahaan dapat mengembangkan program HACCP di dalam aplikasikan food servicenya.

Program Pelatihan Dua (2) Hari ini akan mengedepankan informasi sebagai berikut.

Hari Pertama
(1) Pemahaman Konsep HACCP
(2) Pemahaman PRP: sanitasi dan GMP
(3) Workshop penyusunan HACCP

Hari kedua
(1) Pengenalan Sistem Dokumentasi HACCP
(2) Workshop desain sistem dokumentasi
(3) Desain PRP program

Tujuan utama dari pengembangan sistem ini adalah lebih banyak memberikan manfaat kepada konsumen dan membangun sistem operasional yang kuat secara internal.  Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk mengembangkan sistem yang Anda miliki. (amarylliap@gmail.com)

Senin, 09 Juni 2014

Fungsi Strategis Ketua Tim Manajemen Keamanan Pangan

Perusahaan Anda, pada saat ini sedang melakukan proses set up sistem manajemen keamanan pangan.  Dalam menetapkan sistem manajemen keamanan pangan, sangat penting bagi perusahaan untuk memiliki pemahaman mengenai fungsi dari tim keamanan pangan.  Bagaimana pun juga suatu sistem yang baik menuntut adanya fungsi leadership yang kuat untuk memastikan bahwa Sistem Manajemen Keamanan Pangan dijalankan sesuai dengan strategi yang tepat dan efektif.
Lalu apa saja peranan dari ketua tim keamanan pangan itu sendiri.

(1) Melakukan proses pemastian kesesuaian sistem
Sistem Manajemen Keamanan Pangan (HACCP) itu sendiri harus dipastikan sesuai dengan persyaratan dan standar yang telah ditetapkan.  Sehingga menjadi sangat penting bagi perusahaan untuk memiliki ketua tim yang mumpuni yang dapat mengembangkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan itu sendiri.  Perusahaan harus melihat bahwa ketua tim keamanan pangan adalah bagian kritikal dan menjadi fungsi strategis dari sistem.  Sehingga kemampuan dalam memahami hal-hal teknis yang terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan adalah penting.

(2) Melakukan proses pelatihan dan sosialisasi
Sistem yang baik di atas kertas, bukanlah memegang peranan penting apabila proses aplikasi tidak dapat dijalankan.  Proses-proses yang menjadi pendekatan sistem kepada pemahaman karyawan adalah hal yang utama dan strategis.  Karyawan haruslah diberikan pemahaman yang kuat untuk meningkatkan kesadarannya dalam menjalankan sistem. Tanpa kesadaran yang kuat, sistem akhirnya tidak dapat berjalan secara efektif.

(3) Melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Sistem
Adalah menjadi hal yang menarik, bahwa Sistem harus melalui proses untuk dapat dijadikan suatu nilai strategis untuk dipahami dan dinilai.  Beberapa ukuran harus ditetapkan dan dievaluasi secara terus menerus baik itu sifatnya kuantitatif maupun kualitatif.  Tentunya akan menjadi suatu nilai penting bagi ketua tim keamanan pangan untuk melakukan proses penyusunan laporan terhadap kinerja keamanan pangan.

(4) Menjalankan Program keamanan pangan
Terdapat program-program kerja penting yang harus dijalankan oleh ketua tim keamanan pangan, seperti PRP, internal audit, konsultasi dan komunikasi dengan pihak eksternal terkait lainnya.  Program yang termasuk dalam bagian verifikasi dan validasi haruslah dijalankan untuk memastikan Sistem Manajemen

Keamanan Pangan telah dijalankan sesuai dengan standar persyaratan yang telah ditetapkan.
Lakukan proses penetapan set up terhadap Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang tepat dan efektif.  Referensi eksternal yang tepat dapat membantu perusahaan Anda dalam mencapai Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)