Selasa, 26 Mei 2020

Desain Lay Out yang Tepat Pada Industri Pengolahan Sarang Walet

Industri pengolahan sarang walet adalah industri pangan yang potensial, khususnya untuk market luar negeri seperti China, Amerika dan Australia.  Banyak pemain yang bergerak dalam industri ini, namun tidak sedikit yang belum memhami lay out yang tepat dalam proses pengolahan sarang walet.
Kerugian yang didapatkan oleh perusahaan karena kesalahan lay out adalah banyak sekali, salah satu dari kerugian tersebut adalah potensi kegagalan dari audit kelulusan registrasi veteriner, kegagalan audit HACCP serta tidak efisiennya proses yang dimiliki.

Untuk mencegah potensi kerugian tersebut, berikut ini adalah beberapa hal yang dapat diperhatikan terkait dengan proses pendesainan lay out industri pengolahan sarang walet.

(1) Memastikan Adanya Pemisahan Antara Material Bersih dan Material Kotor
Dalam desain lay out, penempatan antara material bersih dan material kotor harus terpisahkan.  Material kotor adalah material yang masih tercampur dengan kontaminan fisik seperti bulu dan kotoran yang beresiko tinggi dalam mencemari material bersih.  Lokasi pengolahan serta peralatan yang dipergunakan harus dipastikan terpisah antara material bersih dan material kotor.

(2) Mengatur Pergerakan Personel, Barang dan Peralatan
Lay out harus mampu memastikan bahwa pergerakan personel, barang dan peralatan tidak terjadi kontaminasi silang yang dapat menyebabkan produk menjadi tidak aman. Penetapan alir udara juga menjadi bagian yang harus diperhatikan dalam proses penetapan lay out tersebut.

(3) Penempatan Ruang Proses
Ruangan proses harus ditetapkan sesuai dengan alir proses. Mengusahakan tidak terdapat proses balik yang beresiko terjadi kontaminasi. Ketersediaan ruangan yang dipersyaratkan wajib dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan seperti ruang ganti, ruang penyimpanan kemasan serta ruangan lainnya adalah penting untuk tersedia.

Bagaimana proses penyusunan lay out di industri pengolahan sarang walet Anda? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk memastikan bahwa lay out yang dimiliki sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan.(amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Rabu, 20 Mei 2020

Menyusun Sistem FSSC Pada Produk Kemasan

Penetapan sistem manajemen keamanan pangan dalam produk kemasan, sedikit berbeda dengan proses penyusunan sistem FSSC pada produk pangan.  Adapun untuk jenis kemasan itu sendiri, terdapat perbedaan dalam proses penyusunan sistem yang dijalankan.  Terdapat penetapan kategori atas produk kemasan, yaitu produk kemasan dengan kategori high hygine dan produk kemasan dan kategori low hygiene.

Perbedaan dari penetapan sistem yang dilakukan adalah pada proses penetapan sistem PRP (Pre Requisite Program) yang dijalankan.  Produk dengan kategori high hygiene memiliki proses penetapan PRP yang lebih ketat karena memiliki potensi resiko yang tinggi apabila tidak terproses dengan tepat dalam proses pengolahan pangan.

Sekilas perbedaan tersebut tidak berbeda dengan produk pangan, namun produk low hygiene memiliki konsep atas penetapan PRP disesuaikan dengan analisis resiko yang dilakukan.  Penerapan atas pengelolaan keamanan pangan pada produk kemasan juga tidak luput kepada sistem identifikasi bahaya yang spesifik pada setiap tahapan proses. Perusahaan diminta untuk melakukan proses analisis atas komposisi dari material pembentuk kemasan tersebut. Ada baiknya melakukan kajian atas spesifikasi bahan dengan tepat dan efektif.

Proses pengujian yang dijalankan terhadap aspek control measure, hal ini dilakukan untuk memastikan setiap tindakan yang dilakukan dalam proses pengendalian bahaya sangat efektif untuk dapat dijalankan. Pengendalian bahaya pada pengelolaan produk kemasan, harus dijalankan sesuai dengan best practice yang tepat.


Bagaimana dengan penerapan FSSC pada produk kemasan di industri Anda? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam penyusunan FSSC pada produk kemasan yang ada dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Jumat, 08 Mei 2020

Mempelajari Perubahan ISO 22000 versi 2018

Tersedianya program pembaharuan dalam Sertifikasi ISO 22000 memaksa setiap perusahaan untuk melakukan proses up-grade atas Sertifikasi ISO 22000. Lalu bagaimana proses perubahan ISO 22000 versi 2018 dijalankan sesuai dengan standar persyaratan yang ditetapkan.

Berikut ini adalah perubahan ISO 22000 versi 2018.

(1) Tersedianya Konteks Organisasi
Mengidentifikasi kebutuhan terkait dengan konteks organisasi yang ditetapkan untuk mengidentifikasi seluruh issue-issue yang terkait dengan persyaratan organisasi. Serta bagaimana proses penetapan atas konteks organisasi tersebut dijalankan dalam bentuk target untuk dapat mengimplementasikan sistem yang akan dibentuk.

(2) Pengelolaan Resiko
Sistem mengakomodasi resiko peerusahaan dalam proses penetapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Dalam ISO 22000 ini terdapat siklus PDCA Makro yang merupakan manajemen pengelolaan resiko perusahaan dan siklus PDCA mikro.  Dimana siklus PDCA mikro itu adalah proses penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan (HACCP).

(3) Pengukuran Efektifitas Control Measure
Melakukan proses evaluasi efektifitas yang terkait dengan control measure yang ditetapkan dalam setiap tingkatan bahaya.  Proses penilaian efektifitas itu sendiri dapat dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif untuk memastikan kesesuaiannya.

(4) Mengidentifikasi Pihak Terkait dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan
Melakukan analisis terkait dengan pihak-pihak yang terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang telah ditetapkan. Melakukan tindak lanjut terkait dengan status penerapan dari Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang dimaksud.

Bagaimana perusahaan Anda menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam proses pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Selasa, 14 April 2020

Sulitkah Lulus Program Sertifikasi BRC?

Banyak perusahaan pangan berkeinginan untuk menjalankan program sertifikasi BRC. Namun tidak sedikit yang gagal dalam menjalankan program sertifikasi BRC. Kesulitan dalam program sertifikasi BRC itu sendiri sebenarnya tidak sulit untuk dilakukan.

Lalu dimana kesulitas dalam menjalankan program sertifikasi BRC itu sendiri?  Berikut ini mekanisme yang tepat untuk mengatasi kesulitan dalam program sertifikasi.

(1) Mendesain Sistem HARMS
Berbeda dengan sertifikasi lainnya, BRC itu sendiri mempergunakan sistem HARMS yang dipergunakan sebagai sistem pengendalian bahaya keamanan pangan, resiko, serta ancaman atas ekonomi dan sabotase. Bahaya yang termuat untuk sertifikasi BRC itu sendiri tidak hanya meliputi bahaya biologi, kimia maupun fisik, namun juga meliputi allergent, ancaman atas potensi bahaya ekonomi dan sabotase.

(2) Mendesain TACCP dan VACCP
Melakukan set up terkait dengan TACCP dan VACCP, dimana pengendalian atas potensi TACCP dan VACCP sendiri dijalankan dalam proses risk assessment yang efektif pada setiap kegiatan dan area proses.

(3) Menyusun Sistem yang Tepat
Penerapan sistem yang dijalankan untuk memastikan bahwa seluruh persyaratan yang ditetapkan dalam BRC.  Menyusun dokumen dan prosedur yang ada dalam sistem.

(4) Mengembangkan Kebijakan dan Budaya Perusahaan yang Tepat
Bagaimana kebijakan dan budaya perusahaan dijalankan dalam perusahaan.  Perusahaan harus dapat menunjukkan komitmen dalam bentuk kebijakan dan budaya perusahaan yang tepat dalam perusahaan.

(5) Program Pelatihan yang Efektif
Bagaimana perusahaan menjalankan program pelatihan.  Melakukan proses pengelolaan pelatihan dijalankan untuk memastikan kompetensi individu dalam perusahaan memahami sistem dengan tepat dan efektif.

Ada baiknya perusahaan memastikan bahwa Sistem Manajemen Keamanan Pangan BRC telah terimplementasikan sebelum audit BRC agar mendapatkan hasil yang maksimal. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Minggu, 05 April 2020

Sulitkah Untuk Mendapatkan Sertifikasi BRC Versi 8?

Apakah perusahaan Anda saat ini telah memiliki sertifikasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan, dan berkeinginan untuk mendapatkan sertifikasi BRC? Bagaimana mekanisme yang tepat yang dapat perusahaan lakukan untuk lulus dan mendapatkan hasil yang maksimal.

Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat perusahaan lakukan untuk dapat lulus dan mendapatkan sertifikasi BRC versi 8.

(1) Mengidentifikasi Klausul yang Dipersyaratkan
Melakukan analisis atas klausul-klausul yang dipersyaratkan dalam BRC (British Retail Consortium), menjabarkan isi klausul ke dalam aplikasi implementasi yang dipersyaratkan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.

(2) Melakukan Pelatihan Karyawan
Memastikan bahwa program pelatihan karyawan dijalankan dengan tepat dan efektif untuk dapat mengimplementasikan terkait dengan pelatihan karyawan. Sehingga standar persyaratan keamanan pangan dapat dijalankan dengan baik dan efektif.

(3) Mengembangkan Budaya Perusahaan
Menjadi hal yang sangat penting apabila budaya perusahaan tersedia. Dalam penerapan implementasi atas BRC yang baru, ketersediaan budaya serta penerapannya adalah penting.  Karena dengan budaya perusahaan yang tepat, penerapan atas Sistem Manajemen Keamanan Pangan dapat terlaksana.

(4) Mengendalikan Pihak Ketiga
Perusahaan harus mampu melakukan pengelolaan yang terkait dengan pihak ketiga, termasuk di dalamnya adalah pemasok (baik produk dan jasa) serta pelanggan terkait dengan pelaksanaan implementasi dari sertifikasi BRC.

Bagaimana perusahaan Anda menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan? Lakukan proses pencarian refereksi eksternal yang tepat dalam pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Selasa, 31 Maret 2020

Mencegah Sabotase dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Perkembangan penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan menunjukkan bahwa aspek bahaya yang ada dalam keamanan pangan bukan hanya terdiri atas bahaya kimia, fisik dan biologi. Ancaman atas keamanan pangan bisa berasal dari sabotase yang memang dengan sengaja memberikan bahaya atas produk kepada konsumen.

Tidak sedikit kasus atas keamanan pangan muncul sebagai pelajaran penting bagaimana proses pengendalian atas sabotase tersebut dilakukan.  Sedikit berbeda dengan pengelolaan bahaya keamanan pangan lainnya, sabotase harus dilakukan proses evaluasi kajian atas potensi untuk melakukan pengendalian.  Lalu bagaimana cara yang efektif untuk mencegah kemunculan sabotase dalam keamanan pangan? Berikut ini langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh perusahaan.

(1) Mengidentifikasi Potensi Ancaman
Melakukan proses pemeriksaan atas potensi yang muncul dalam ancaman.  Ada baiknya perusahaan melakukan proses risk assessment untuk mengukur potensi tersebut muncul. Risk assessment dapat dianalisis berdasarkan pada data yang berasal dari internal dan eksternal perusahaan.  Potensi atas komunikasi yang tidak efektif dapat meningkatkan nilai potensi ancaman tersebut muncul.

(2) Menetapkan Control Measure
Melakukan proses penetapan atas tindakan-tindakan yang dapat menghilangkan potensi tersebut. Proses penetapan seperti pengendalian akses, pengendalian karyawan atau penggunaan teknologi untuk meminimalkan resiko menjadi nilai yang penting untuk mengeliminasi resiko yang ada.

(3) Melakukan Pencatatan dan Kajian Atas Insiden
Setiap permasalahan yang muncul atas insiden yang ada pada kasus sabotasi harus dilakukan analisis penyebabnya untuk kemudian menetapkan tindakan perbaikan yang dilakukan. Pastikan bahwa tindakan perbaikan tersebut efektif sehingga tidak  menimbulkan kasus yang sama di kemudian hari.

Bagaiman perusahaan Anda mengelola Sistem Manajemen Keamanan Pangan? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang efektif untuk mengelola Sistem Manajemen Keamanan Pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Senin, 30 Maret 2020

Memahami Konteks Organisasi dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Dalam penerapan ISO 22000 versi 2018, terdapat adanya penambahan yang terkait dengan konteks organisasi dalam pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.  Penetapan atas konteks organisasi itu sendiri banyak terkait dengan perubahan yang terjadi pada ISO 9001 versi 2015.

Kebutuhan perusahaan untuk mampu menangkap issue internal dan eksternal yang terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Mengapa diperlukan adanya penetapan issue internal dan eksternal tersebut?

Perusahaan membutuhkan adanya suatu improvement dan fleksibilitas untuk mengadopsi setiap perubahan. Penyusunan sistem secara prinsip juga harus memperhatikan kebutuhan serta informasi yang diharapkan pada sisi internal dan eksternal perusahaan. Dari konteks organisasi tersebut, perusahaan diharapkan dapat merancang desain sistem yang tepat dan efektif.

Melalui konteks organisasi, perusahaan dapat menjalankan strategi yang tepat untuk mengarahkan tujuan terkait dengan perubahan yang ada dalam organisasi, khususnya dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan.

Bagaimana perusahaan Anda menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan ISO 22000 versi 2018? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat mengimplementasikan Sistem Manajemen Keamanan Pangan ISO 22000 versi 2018. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Membedakan Validasi dan Verifikasi dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, baik itu HACCP, FSSC, ISO 22000 maupun BRC seringkali kita mendengar informasi terkait dengan validasi dan verifikasi.  Seringkali juga, terjadi kesalahan proses penafsiran terkait dengan verifikasi dan validasi itu sendiri. Lalu bagaimana cara membedakan validasi dan verifikasi.

Apa itu Verifikasi?

Verifikasi adalah proses pemeriksaan yang dilakukan untuk memastikan bahwa control measure (tindakan untuk menghilangkan bahaya) adalah efektif ditujukan untuk menghilangkan bahaya tersebut.  Verifikasi yang dijalankan dapat dilakukan dengan melakukan proses pengujian produk, kalibrasi, ataupun dengan internal audit.  Verifikasi itu sendiri dilakukan dalam periode tertentu setelah control measure dijalankan.

Apa itu Validasi?

Validasi adalah proses konfirmasi yang dilakukan untuk memastikan bahwa control measure yang ditetapkan adalah benar untuk menghilangkan bahaya tersebut.  Validasi itu sendiri dapat meruapakn referensi ataupun hasil pengujian/ penelitian yang dilakukan pada masa sebelumnya sebagai bentuk pemastian bahwa control measure yang dipilih adalah efektif. Validasi itu sendiri dilakukan sebelum pelaksanaan control measure dijalankan.  Proses validasi adalah termasuk proses verifikasi yang dijalankan untuk memastikan control measure pada periode berikutnya. Contohnya seperti pada proses penetapan shelf life, perusahaan bisa mempergunakan referensi daripada menunggu periode shelf life tersebut dijalankan.

Bagaimana perusahaan Anda menjalankan implementasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Sabtu, 15 Februari 2020

Prinsip Perubahan BRC Versi 8

Pada perusahaan yang telah melakukan proses sertifikasi BRC untuk Versi 7, saat ini telah diterbitkan BRC Versi 8.  Dalam sistem sertifikasi BRC versi terbaru terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai bagian penting untuk menjadi perubahan dibandingkan dengan BRC versi lama.

(1) Identifikasi Bahaya
Proses untuk mengidentifikasi bahaya yang dilakukan tidak hanya berfokus kepada aspek hazard saja,  namun juga kepada aspek resiko yang muncul. 

(2) Mengembangkan Aspek VACCP dan TACCP secara efektif 
Melakukan analisis terkait dengan proses penerapan TACCP dan VACCP yang bersinergi dengan authentifikasi produk.

(3) Penerapan Budaya Keamanan Pangan
Bagaimana perusahaan memastikan adanya budaya keamanan pangan yang dijalankan secara tepat dan efektif di dalam perusahaan. 

Konsep dalam pengelolaan keamanan pangan selalu terbaharui,  ada baiknya perusahaan mempergunakan referensi eksternal yang tepat untuk dapat mengembangkan sistem manajemen SDM.  (amarylliap@gmail.com,  08129369926)