Jumat, 05 Desember 2014

Implementasi OPRP dalam Industri Pangan

Dalam sistem manajemen keamanan pangan, penerapan PRP (Pre Requisite Program) adalah penting dan menjadi dasar dari proses penyusunan HACCP.  PRP dalam industri pangan skala menengah dan kecil bukanlah suatu masalah yang mudah untuk dipecahkan, pertimbangan terkait dengan budget, nilai jual produk ataupun terhadap kapasitas sumber daya manusia merupakan hal penting yang harus dipecahkan.
Dalam kondisi dimana PRP tidak dapat terpenuhi, perusahaan harus dapat memastikan bahwa Sistem Persyaratan terkendali dan dapat memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan tersebut. Untuk itulah perusahaan dapat menjalankan OPRP (Operational Pre Requisite Program) yang merupakan bagian penting dari bagaimana sistem tersebut dijalankan. Lalu apa yang dimaksud dengan OPRP.

1) OPRP adalah tindakan pengendali khusus yang didesain untuk memastikan bahwa sistem dapat terkendali. Sebagai contoh perusahaan yang tidak memiliki metal detector harus menjalankan fungsi pemeriksaan terkait dengan filter produk, serta adanya aspek resiko kontaminasi yang masuk ke dalam produk.

2) OPRP adalah tindakan untuk memastikan bahwa bahaya signifikan dapat terkendali dalam batasan yang dapat diterima
Memastikan adanya sistem pemeriksaan pisau yang digunakan untuk memastikan tidak adanya pisau yang hilang atau menjadi kontaminan di dalam produk.

Adalah hal yang sangat penting bagi pelaku praktisi keamanan pangan untuk juga memastikan OPRP terlaksana, namun pengendalian terkait OPRP itu sendiri memerlukan suatu sistem verifikasi yang ketat dan efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Rabu, 01 Oktober 2014

Menyusun Sasaran Keamanan Pangan

Pada penerapan implementasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan, adalah menjadi hal yang sangat penting dan merupakan perihal yang wajib dalam penerapan sistem ISO 22000.  Lalu bagaimana perusahaan sebaiknya melakukan proses penyusunan sasaran keamanan pangan yang tepat dan efektif?

Langkah pertama, menetapkan sasaran keamanan pangan

Terdapat tiga persyaratan utama yang perusahaan sebaiknya memperhatikan ketika akan melakukan proses penetapan sasaran keamanan pangan.  Ketika persyaratan utama tersebut adalah pemastian pemenuhan terhadap peraturan persyaratan, pemastian adanya pengendalian bahaya keamanan pangan serta melakukan perbaikan sumber daya manusia. Ketiga parameter tersebut sangat penting dan strategis sebagai bagian dari proses perbaikan yang berkesinambungan.

Langkah kedua, menetapkan sasaran terukur
Memastikan adanya penetapan sasaran terukur yang menjadi prioritas penting dalam penetapan strategis ukuran dari kinerja yang dijalankan.  Penetapan nilai sebagai target dapat dilakukan melalui analisis yang kuat dan berdasarkan pada latar belakang historis yang menjadi persyaratan yang telah ditetapkan. Target yang tepat dapat mengakomodasi kepentingan perusahaan akan komitmen terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Langkah ketiga, menetapkanSistemPencatatan dan PengendalianPengukuran
Setelah menetapkan target yang telah ditetapkan tersebut, perusahaan menetapkan mekanisme program pengukuran dan evaluasi yang efektif untuk dapat memastikan bahwa target kerja terukur secara sistematis.
Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dan efektif untuk memastikan bahwa Sistem Manajemen Keamanan Pangan dalam perusahaan dijalankan dan terevaluasi secara tepat dan efektif. (amarylliap@gmail.com)

Sabtu, 12 Juli 2014

Sistem Pergudangan Berdasarkan Standar Manajemen Keamanan Pangan

Dalam sistem manajemen keamanan pangan, adalah menjadi keharusan untuk dapat mensinergikan antara sistem yang telah ditetapkan dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang telah dipersyaratkan. Adapun desain sistem pergudangan yang dipersyaratkan dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan adalah sebagai berikut:

(1) Penempatan barang dan lay out gudang

Perusahaan harus memastikan bahwa penempatan barang dijalankan dengan konsep FEFO (First Expired First Out), dimana di dalamnya perusahaan diminta untuk menempatkan barang berdasarkan status expired date.

Penetapan lay out barang di dalam gudang juga memegang peranan penting. Pemisahan antara barang harus dijalankan berdasarkan standar penyimpanan yang telah ditetapkan, status resiko keamanan pangan juga menjadi dasar dari proses pemisahan barang yang ada dalam gudang.  Perusahaan sebaiknya menetapkan standar internal penyimpanan internal yang dijadikan panduan dalam proses penyimpanan yang dijalankan di dalam gudang.

(2) Desain Sistem Sanitasi

Gudang harus dipastikan terkelola dengan baik.  Penempatan barang sebaiknya dijalankan sesuai dengan standar GMP (Good Manufacturing Practice), dimana sistem sanitasi juga sebaiknya ditetapkan berdasarkan standar sanitasi yang telah terverifikasi tepat dan efektif dalam mencegah peningkatan resiko selama penyimpanan.
Beberapa pertimbangan juga harus menjadi perhatian dalam menyusun desain sanitasi adalah dengan mempertimbangkan aspek jumlah item barang di dalam gudang, karakteristik penyimpanannya serta tahapan proses penanganan di area tersebut.  Idealnya gudang adalah hanya tempat penyimpanan barang, namun di beberapa industri juga dipastikan bahwa gudang adalah area persiapan barang sehingga proses sanitasi sangat dibutuhkan untuk lebih intensif.

(3) Food Security Program

Gudang adalah area dengan resiko yang cukup tinggi terhadap resiko akan sabotase, ataupun resiko kehilangan dari produk/ material.  Perusahaan sebaiknya menetapkan standar tata cara yang tepat untuk melakukan proses pengendalian terhadap keamanan produk sehingga bisa dipastikan bahwa gudang tersebut dapat terjaga dan terhindar dari resiko penyimpangan yang bisa muncul.

Bagaimana Anda melakukan proses pengelolaan terhadap standar Sistem Manajemen Keamanan Pangan di perusahaan Anda. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam mengembangkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan dalam perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Senin, 30 Juni 2014

Fungsi Konsultan dalam Penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Dalam melakukan proses penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, perusahaan mengembangkan sistem yang paling efektif dan tepat sesuai dengan kebutuhannya.  Beberapa perusahaan dapat mengembangkan sendiri sistem Keamanan Pangan yang ada dalam perusahaan, namun tidak sedikit juga perusahaan mengembangkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Lalu apa manfaat menggunakan konsultan untuk mengembangkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan di dalam perusahaan?

Fungsi pertama, mengembangkan kompetensi sumber daya manusia

Dengan menggunakan konsultan yang berpengalaman, dimana kompetensi sumber daya manusia tersebut harus memastikan bahwa aspek pengalaman dan keahlian konsultan dapat diinformasikan kepada organisasi tersebut.

Fungsi kedua, pendampingan implementasi sistem

Selain mengembangkan kompetensi keahlian, konsultan juga dapat berperan untuk mengembangan sistem di dalam perusahaan.  Memberikan motivasi dan stimulus yang diharapkan dapat mengoptimalkan kinerja tim dalam menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan.  Bagaimana pun juga, sistem adalah milik organisasi bukan hanya milik satu orang/ sekelompok orang dalam organisasi.

Fungsi ketiga, melakukan proses validasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Peranan konsultan sebagai bentuk salah satu referensi eksternal dapat dipergunakan untuk menjalankan proses validasi terhadap sistem manajemen keamanan pangan dalam perusahaan.  Peranan ini tidak mutlak namun dapat dipergunakan sebagai alternatif.

Bagaimana pengembangan Sistem Manajemen Keamanan Pangan di perusahaan Anda? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk pengembangan Sistem Manajemen Keamanan Pangan di perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Selasa, 24 Juni 2014

Pembuatan Sistem Pengelolaan Limbah pada Industri Pangan

Dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, industri diharapkan tidak hanya mempertimbangkan tahapan kerja operasional produksi saja.  Adanya tuntutan yang kuat terkait dengan proses penanganan limbah juga menjadi bagian yang kuat dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan dan terutama adalah oleh Peraturan Pemerintah.
Hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam proses penanganan limbah industri.

(a) Sistem Pemisahan Limbah
Harus dapat dipastikan bahwa penanganan limbah terpisah untuk mempermudah penanganan limbah pada tempat pembuangan limbah akhir.  Perusahaan dapat menetapkan SOP khusus yang terkait dengan proses penangan limbah.

(b) Sistem Penanganan Limbah Cair
Salah satu resiko terbesar pada industri pangan/ perikanan adalah status dari penanganan limbah yang dimaksud.  Seperti bagaimana waste water treatment dijalankan.  Memastikan bahwa mekanisme dari penanganan limbah tersebut secara tepat dapat menghasilkan limbah yang dapat sesuai dengan baku mutu lingkungan.

(c) Sistem recycle limbah
Perusahaan harus dapat memastikan adanya sistem recycle limbah yang tepat dapat memberikan dampak positif terhadap limbah.  Dimana limbah itu sendiri dapat dioptimalkan menjadi suatu produk yang layak untuk dijual atau ditingkatkan manfaatnya.

Bagaimana proses penanganan limbah di perusahaan Anda. Satu hal yang amat sangat perlu diperhatikan adalah bagaimana limbah tersebut tidak menyebabkan adanya kontaminasi silang.  Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat terkait dengan proses penanganan limbah di perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Senin, 23 Juni 2014

Pengendalian Peralatan Kerja dalam Industri Pangan

Penerapan GMP (Good Manufacturing Practice) bagi industri Pangan/ Perikanan adalah menjadi suatu persyaratan yang mendasar.  Dalam penerapan HACCP, aplikasi dari sistem GMP yang efektif dapat meminimalkan timbulnya kontaminasi silang terhadap produk.
Salah satu hal yang menjadi bagian penting dalam penerapan GMP adalah proses penggunaan dan pengendalian terhadap peralatan kerja yang digunakan pada area proses produksi.  Terdapat 5 catatan yang harus menjadi pertimbangan suatu industri berkaitan dengan proses penggunaan peralatan kerja yang dimaksudkan tersebut.

(1) Jenis dan Material Peralatan

Ada baiknya peralatan kerja yang digunakan untuk proses produksi tersebut adalah berasal dari kualitas material yang baik, tidak mudah rusak dan memberikan dampak kontaminasi silang terhadap proses produksi.  Namun apabila peralatan dengan kualitas yang dimaksud sulit ditemukan, industri dapat menggunakan peralatan yang ada dengan meminimalkan resiko dengan menggunakan checklist.  Namun yang perlu diperhatikan bahwa ini adalah alternatif terakhir.

(2) Pemeriksaan Kondisi Alat

Industri harus menciptakan sistem yang tepat dan sesuai untuk memastikan bahwa kondisi peralatan yang digunakan adalah masih layak untuk digunakan.  Proses pemeriksaan secara berkala harus dijalankan, dan apabila ditemukan peralatan dalam kondisi tidak memenuhi standar persyaratan maka peralatan yang dimaksudkan tersebut dapat diganti atau diperbaiki.

(3) Identifikasi Peralatan

Bagaimana kondisi peralatan harus dialokasikan sesuai dengan kode penempatan, penempatan peralatan harus dibedakan antara lokasi dengan status high risk dan low risk.  Dalam kondisi lain, pemisahan peralatan juga harus dipastikan terpisah apabila ada status allergent pada produk.

(4) Program Kebersihan

Peralatan kerja harus dipastikan terjadwal dalam sistem pengendalian program kebersihan.  Adanya jadwal dan schedule yang dapat diaplikasikan untuk program kebersihan tersebut diverifikasi dan dipastikan terjamin dalam pengawasan metode pembersihannya.

(5) Keamanan dari Resiko Toksin

Untuk peralatan kerja yang kontak langsung dengan produk pangan, sangat dipersyaratkan untuk meminimalkan resiko adanya toksin yang dapat mempengaruhi produk.  Adanya jaminan food grade menjadi pertimbangan utama bagi suatu industri dalam menggunakan peralatan yang kontak langsung dengan produk pangan.

Desain Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang tepat dan efektif dapat membantu perusahaan dalam mengoptimalkan organisasi dan kualitas produk.  Lakukan proses pencarian referensi eksternal terkait dengan pengembangan Sistem Manajemen Keamanan Pangan tersebut. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Sabtu, 21 Juni 2014

Memilih Sertifikasi Keamanan Pangan

Bagi industri pangan/ perikanan, pada saat ini banyak alternatif sertifikasi manajemen keamanan yang dapat dipergunakan.  Dimana hal ini dapat menjadi opsi pilihan yang menarik dan memberikan nilai jual terhadap industri pangan/ perikanan.  Lalu sistem manajemen sertifikasi mana yang akan dipilih oleh perusahaan?

(1) HACCP

Sertifikasi HACCP adalah sertifikasi dasar yang menjadi bagian penting pada industri pangan/ perikanan.  Dalam industri perikanan, sertifikasi HACCP adalah menjadi kewajiban dan juga didukung oleh Kementerian Perikanan. Dengan sertifikasi ini, perusahaan sudah mendapatkan jaminan bahwa sistem manajemen operasional dari perusahaan telah terjamin keamanannya.

(2) ISO 22000

ISO 22000 adalah sertifikasi yang berbasikan pengendalian terhadap keamanan pangan yang menyeluruh pada seluruh komponen dalam perusahaan. Jenis sertifikasi ini dapat memberikan jaminan lebih pada perusahaan, dimana pelanggan melihat adanya keseriusan secara total pada perusahaan dalam menetapkan standar sistem manajemen.  Apabila perusahaan sudah menjalankan Standar ISO 22000 maka sudah tidak diperlukan lagi memiliki sertifikasi HACCP, karena di dalam sistem ISO 22000 sudah termuat sistem HACCP.

(3) Sertifikasi GFSI

Selai ISO 22000, Global Food Safety Institue merekomendasikan sertifikasi FSSC, BRC dan IFS sebagai sertifikasi yang dipersyaratkan oleh beberapa perusahaan pangan besar.  ISO 22000 tidak menjadi prasyarat utama yang dipertimbangkan, hal ini lebih disebabkan karena Sistem Manajemen ISO 22000 tidak mengendalikan secara teknis pelaksanaan sistem manajemen keamanan pangan.  Faktor teknis yang terkait adalah kondisi infrastruktur, lay out, kompetensi sumber daya manusia serta persyaratan teknis lainnya.

Perusahaan sebaiknya melakukan proses pemilihan sertifikasi berdasarkan pada kebutuhan dan kepentingan dari pelanggan dan sasaran pasar yang akan dituju. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam pengembangan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Kamis, 12 Juni 2014

Training HACCP untuk Rumah Sakit, Hotel, Restoran dan Supermarket

Salah satu tantangan terbesar yang dimiliki oleh sektor food service seperti rumah sakit, hotel, restoran dan supermarket adalah bagaimana memastikan produk pangan yang akan dikonsumsi oleh konsumen aman dan sesuai dengan standar keamanan pangan.

Prinsip-prinsip keamanan pangan yang sebelumnya telah teraplikasikan di dalam industri pangan, ternyata menjadi bagian yang sangat kritikal ketika harus dilakukan proses adopsi di bidang food service.  Terdapat beberapa bagian proses yang aspeknya lebih dinamis muncul di food service. Sehingga menjadi sangat penting bagi personel yang bergerak di bidang food service untuk dapat memahami Sistem Manajemen Keamanan Pangan agar dapat diaplikasikan dengan baik dan tepat.

Program pelatihan HACCP yang khusus didesain untuk food service dapat memberikan manfaat terkait dengan pentingnya pemahaman yang berbeda pada industri food service dalam mengaplikasikan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Bermodelkan pelatihan dua hari dengan memadukan antara teori dan prakter, maka pihak perusahaan dapat mengembangkan program HACCP di dalam aplikasikan food servicenya.

Program Pelatihan Dua (2) Hari ini akan mengedepankan informasi sebagai berikut.

Hari Pertama
(1) Pemahaman Konsep HACCP
(2) Pemahaman PRP: sanitasi dan GMP
(3) Workshop penyusunan HACCP

Hari kedua
(1) Pengenalan Sistem Dokumentasi HACCP
(2) Workshop desain sistem dokumentasi
(3) Desain PRP program

Tujuan utama dari pengembangan sistem ini adalah lebih banyak memberikan manfaat kepada konsumen dan membangun sistem operasional yang kuat secara internal.  Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk mengembangkan sistem yang Anda miliki. (amarylliap@gmail.com)

Senin, 09 Juni 2014

Fungsi Strategis Ketua Tim Manajemen Keamanan Pangan

Perusahaan Anda, pada saat ini sedang melakukan proses set up sistem manajemen keamanan pangan.  Dalam menetapkan sistem manajemen keamanan pangan, sangat penting bagi perusahaan untuk memiliki pemahaman mengenai fungsi dari tim keamanan pangan.  Bagaimana pun juga suatu sistem yang baik menuntut adanya fungsi leadership yang kuat untuk memastikan bahwa Sistem Manajemen Keamanan Pangan dijalankan sesuai dengan strategi yang tepat dan efektif.
Lalu apa saja peranan dari ketua tim keamanan pangan itu sendiri.

(1) Melakukan proses pemastian kesesuaian sistem
Sistem Manajemen Keamanan Pangan (HACCP) itu sendiri harus dipastikan sesuai dengan persyaratan dan standar yang telah ditetapkan.  Sehingga menjadi sangat penting bagi perusahaan untuk memiliki ketua tim yang mumpuni yang dapat mengembangkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan itu sendiri.  Perusahaan harus melihat bahwa ketua tim keamanan pangan adalah bagian kritikal dan menjadi fungsi strategis dari sistem.  Sehingga kemampuan dalam memahami hal-hal teknis yang terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan adalah penting.

(2) Melakukan proses pelatihan dan sosialisasi
Sistem yang baik di atas kertas, bukanlah memegang peranan penting apabila proses aplikasi tidak dapat dijalankan.  Proses-proses yang menjadi pendekatan sistem kepada pemahaman karyawan adalah hal yang utama dan strategis.  Karyawan haruslah diberikan pemahaman yang kuat untuk meningkatkan kesadarannya dalam menjalankan sistem. Tanpa kesadaran yang kuat, sistem akhirnya tidak dapat berjalan secara efektif.

(3) Melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Sistem
Adalah menjadi hal yang menarik, bahwa Sistem harus melalui proses untuk dapat dijadikan suatu nilai strategis untuk dipahami dan dinilai.  Beberapa ukuran harus ditetapkan dan dievaluasi secara terus menerus baik itu sifatnya kuantitatif maupun kualitatif.  Tentunya akan menjadi suatu nilai penting bagi ketua tim keamanan pangan untuk melakukan proses penyusunan laporan terhadap kinerja keamanan pangan.

(4) Menjalankan Program keamanan pangan
Terdapat program-program kerja penting yang harus dijalankan oleh ketua tim keamanan pangan, seperti PRP, internal audit, konsultasi dan komunikasi dengan pihak eksternal terkait lainnya.  Program yang termasuk dalam bagian verifikasi dan validasi haruslah dijalankan untuk memastikan Sistem Manajemen

Keamanan Pangan telah dijalankan sesuai dengan standar persyaratan yang telah ditetapkan.
Lakukan proses penetapan set up terhadap Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang tepat dan efektif.  Referensi eksternal yang tepat dapat membantu perusahaan Anda dalam mencapai Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang efektif. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Sabtu, 31 Mei 2014

Strategi Melakukan Seleksi Badan Sertifikasi

Apakah perusahaan Anda pada saat ini akan menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan? Lalu ketika perusahaan Anda bingung akan memilih badan sertifikasi, point apa yang harus Anda lakukan dalam memilih? Mengingat saat ini banyak sekali alternatif badan sertifikasi yang dapat digunakan.
Sebagai bahan pertimbangan, ada baiknya perusahaan memperhatikan beberapa faktor yang penting sebelum memilih badan sertifikasi:
(1) Pertimbangan Konsumen
Sebelum memilih badan sertifikasi ada baiknya perusahaan memperhatikan konsumen yang akan menjadi sasaran tujuan atau yang dimiliki oleh perusahaan saat ini.  Tidak dapat dipungkiri proses pemilihan badan sertifikasi akan mempengaruhi brand dari perusahaan.  Apabila badan sertifikasi yang dipilih adalah badan sertifikasi internasional, maka secara umum perusahaan dapat diterima oleh konsumen.  Karena bagaimana pun juga tujuan sertifikasi salah satunya adalah membangun kepercayaan dari konsumen.

(2) Pertimbangan Kualitas
Kualitas dari badan sertifikasi lebih dapat ditentukan dari auditor yang digunakan. Pastikan badan sertifikasi menyediakan auditor yang sangat kompeten dan memiliki pengalaman yang cukup dalam ruang lingkup audit yang akan dijalani.  Banyak manfaat dan perbaikan akan didapatkan apabila perusahaan menjalankan audit dengan tenaga ahli yang mumpuni.

(3) Pertimbangan Harga
Penting dan sangat perlu untuk dievaluasi.  Bagaimana perhitungan harga dilakukan dan apabila memungkinkan bandingkan dengan badan sertifikasi lainnya.  Bukan nilai rupiahnya yang harus menjadi pertimbangan, namun nilai jual yang sangat penting dan ruang lingkup sertifikasinya.
Lakukan proses pencarian badan sertifikasi yang tepat untuk dapat memberikan kontribusi terhadap bisnis perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Senin, 26 Mei 2014

Program Pelatihan Food Hygiene untuk Pelaku Usaha Katering, Restauran & Cafe

Dalam mengembangkan aspek kompetitif yang terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, adalah penting bagi usaha food service untuk dapat mengedepankan pemahaman yang beraitan dengan konsep food hygiene dan sanitasi. Dalam pelaksanaan program implementasi Sistem Manajemen Keamanan pangan, faktor karyawan dapat menjadi penentu untuk dapat memastikan terealisasinya PRP (Pre Requisite Program) sebagai penentu aspek kritikal terhadap poses sanitasi dan food hygiene.
Program Pelatihan yang akan dijalankan merupakan satu (1) hari pelatihan, dengan pendekatan tema pelatihan sebagai berikut:
(1) Identifikasi aspek kebersihan pada area kerja
(2) Pengenalan Bahan Kimia untuk Proses Sanitasi
(3) Desain dan manajemen operasional sanitasi
(4) Dasar-dasar food hygiene dalam usaha food service
Diharapkan dengan pelatihan satu (1) hari ini karyawan dapat memahami pentingnya proses implementasi dari sanitasi dan food hygiene. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Sabtu, 24 Mei 2014

Mengoptimalkan Fungsi QC dalam Industri Pangan

Dalam industri pangan/ perikanan, adalah sangat krusial agar perusahaan memiliki QC sebagai fungsi evaluasi kualitas.  Posisi penempatan QC agar lebih maksimal harus dijalankan sesuai dengan fungsinya yaitu melakukan pemeriksaan kualitas dengan cara sampling dengan metode yang tepat dan memastikan bahwa proses pemeriksaan efektif dijalankan.  Adalah salah melihat bahwa kualitas adalah output yang dihasilkan oleh QC, kualitas adalah hasil efektif yang juga dijalankan oleh pihak produksi.

Pada perkembangannya, industri pangan/ perikanan yang telah menjalankan program Sistem Manajemen Keamanan Pangan, maka aplikasi dari penerapan fungsi QC dapat dimaksimalkan tidak hanya untuk kebutuhan inspeksi saja.  Penerapan dapat dijalankan dengan mengoptimalkan fungsi:

(a) Verifikasi Titik Kendali Bahaya
Ada baiknya dalam setiap tahapan proses yang merupakan titik CCP / kendali kritis bahaya, maka QC Inspector menjalankan proses verifikasi terhadap pemantauan dari hasil pemeriksaan periodik.  Proses verifikasi ini dijalankan agar dijalankan dua sisi pemeriksaan selain oleh pihak produksi agar tahapan proses ini dapat terjaga secara optimal.

(b) Verifikasi PRP
Dalam proses penerapan sistem operasional PRP yaitu sanitasi dan GMP, perlu adanya pemastian bahwa pengendalian operasional dan administrasi dijalankan sesuai dengan SOP.  Setelah dipastikan telah dijalankan sesuai dengan SOP maka QC yang bersangkutan dapat melakukan proses uji validasi untuk memastikan bahwa sistem tersebut seduai dengan standar persyaratan.

(c) Trainer penerapan HACCP/ Sistem Keamanan Pangan
Fungsi QC dapat dioptimalkan sebagai tenaga pelatih untuk memastikan adanya konsistensi proses dan kedisiplinan dalam menjalankan Sistem Manajemen keamanan Pangan.  Hal yang sangat perlu diingat adalah memastikan bahwa penerapan pelatihan tidak hanya pelatihan ruangan saja, tetapi juga di dalamnya adalah pelatihan yang langsung dijalankan di lapangan.

(d) Assessor dari Implementasi Sistem
QC dapat difokuskan untuk memastikan bahwa Sistem Manajemen Keamanan Pangan dijalankan dengan melakukan proses penilaian realisasi efektifitas aktual dengan sistem.  Inspector QC dapat difasilitasi dengan checklist untuk dapat memastikan bahwa program pengembangan QC telah dijalankan sesuai dengan standar.

Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dan efektif untuk dapat memastikan bahwa Sistem manajemen Keamanan pangan dalam perusahaan Anda telah efektif dijalankan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Jumat, 18 April 2014

Training Menyusun Sistem Manajemen Keamanan pada Industri Kemasan

Perkembangan kebutuhan akan produk yang aman memberikan kontribusi terhadap kebutuhan perubahan akan kualitas produk.  Kemasan tidak selamanya dipandang sebagai pelengkap dalam produk pangan, namun juga memberikan kontribusi yang tidak sedikit dalam memastikan keamanan pangan kemasan terkendali dengan baik dan efektif.

Adalah menjadi tantangan bagi industri kemasan untuk mengimplementasikan Sistem Manajemen Keamanan Pangan ISO 22000 di dalam perusahaan.  Program pelatihan yang tepat dapat memberikan panduan bagi industri kemasan terhadap penyusunan/ set up terkait dengan sistem yang akan dijalankan.

Pelatihan ini akan dijalankan selama dua hari.

Hari Pertama:
- Pemahamanan HACCP, GMP dan SSOP
- Identifikasi bahaya keamanan pangan dalam kemasan
- Penyusunan HACCP
-Workshop pembuatan HACCP

Hari Kedua:
- Pemahaman klausul-klausul ISO 22000
- Dokumentasi Sistem
- Workshop penyusunan dokumen

Dengan menjalankan program pelatihan ini, sangat diharapkan pelaku industri untuk mengoptimalkan penerapan sistem dalam implementasinya.  Adalah menjadi tantangan bagi industri kemasan untuk dapat menjadi lebih baik dalam mendukung keamanan pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Tahapan Menyusun Sistem Traceability

Dalam industri pangan/ perikanan, salah satu tantangan terbesar dalam menerapkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan adalah bagaimana melakukan proses pengendalian terhadap sistem traceability.  Sistem Traceability adalah suatu hal yang wajib dan sangat penting untuk dilakukan proses pengujian.

Lalu bagaimana internal perusahaan menyusun Sistem Traceability yang tepat dan efektif?

Langkah pertama, melakukan proses identifikasi alir proses
Adalah sangat penting untuk melakukan proses pembelajaran terhadap alir proses produksi yang ada untuk melakukan pengaturan sistem traceability yang ada.

Langkah kedua, melakukan proses penyusunan terkait dengan Sistem Traceability yang ada dalam perusahaan.  Mulai dari pengaturan sistem di pemasok, proses penyimpanan, sistem pencatatan traceability produksi serta proses penyimpanan di gudang barang jadi.  Sistem juga sebaiknya dapat mencakup adanya pengembangan terkait sistem return, sistem stock in place/ work in progress serta adanya reject.

Langkah ketiga, menjalankan konsep mass balanced untuk dapat lebih memastikan bahwa sistem traceability tersebut dapat dievaluasi secara tepat dan efektifif.  Sistem traceability yang tepat dapat memastikan adanya kesesuaian antara data administrasi dengan data aktual.

Lakukan proses penyusunan sistem traceability yang tepat dalam industri anda, dan lakukan proses evaluasi untuk mendapatkan informasi status keefektifannya. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Selasa, 18 Maret 2014

Aplikasi Food Security Program dalam Industri Pangan/ Perikanan

Banyak perusahaan pangan dan perikanan melihat bahwa perencanaan Food Security Program adalah hal yang tidak begitu penting.  Apa pengaruhnya keamanan pangan dengan program Food Security Program?  Satu hal yang pasti, proses pengelolaan terhadap individu yang masuk ke dalam area kerja sangat membantu proses pengendalian terhadap keamanan pangan.  Ancaman seperti terorisme ataupun sabotase juga harus mempengaruhi keamanan pangan dalam produk.
Lalu bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan dalam proses aplikasi Food Security Program dalam perusahaan.

(1) Lakuan proses risk assessment terhadap area kerja proses produksi

Dalam hal ini, perusahaan harus melakukan penetapan area kerja berdasarkan status dari resiko dalam area kerja.  Type resiko yang harus diperhatikan adalah melihat kritikal dan akses langsung terhadap produk.  Semakin besar potensi terhadap pertemuan terhadap produk maka harus dipastikan bahwa area tersebut termasuk ke dalam area dengan resiko tinggi ataupun kritikal.  Dimana dalam tahapan ini, harus ditetapkan proses pengendalian akses yang ketat.

(2) Lakukan proses pengendalian akses

Penetapan pengendalian akses pada area kerja dapat dijalankan dengan tahapan proses pemisahan secara fisik ataupun melalui proses pengendalian secara formal.  Pemastian bahwa proses terkendali akses dapat dilakukan dengan penempatan personel untuk melakukan pengawasan atau dapat dilakukan dengan sistem keamanan khusus.

(3) Proses pencatatan pemantauan akses

Akses dijalankan dengan memastikan adanya catatan terkait dengan pemantauan terhadap barang maupun personel.  Catatan pemantauan harus dipastikan mengevaluasi sistem akses secara efektif.  Tersedia pengontrolan dan evaluasi yang dapat digunakan sebagai sistem penelusuran apabila terjadi ketidaksesuaian yang berkaitan dengan status akses yang dimaksudkan tersebut.

Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang yang terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan agar sistem terimplementasikan secara optimal. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Minggu, 23 Februari 2014

Bagaimana Tata Cara Mengidentifikasi Bahaya dalam Penyusunan HACCP Produk Kemasan

Hal yang sangat menarik ketika proses penyusunan Sistem Keamanan Pangan dilakukan pada produk kemasan.  Pertanyaan pentingnya, apakah proses identifikasi resiko yang dijalankan adalah sama untuk produk pangan dan produk kemasan?  Mengingat kemasan tersebut tidak menjadi bagian dalam proses konsumsi pangan itu sendiri.

Lalu bagaiman tata cara yang dapat dijadikan panduan dalam melakukan proses identifikasi bahaya dalam produk kemasan tersebut? Berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh industri kemasan ketika melakukan proses identifikasi bahaya dalam Sistem HACCP.

(1) Melakukan Proses Identifikasi terhadap Peraturan dan Persyaratan Perundangan
Ketika melakukan proses penetapan persyaratan terhadap peraturan perundangan, peraturan dan informasi yang menjadi referensi eksternal dalam proses penetapan resiko adalah penting.  Ada baiknya, issue-issue yang terkait dengan keamanan pangan dalam produk itu sendiri harus teridentifikasi untuk dapat menjadi persyaratan pertama dalam menentukan tingkat resiko yang ada.

(2) Melakukan Evaluasi Alir Proses
Pelajari alir proses dari proses produksi untuk kemudian dilakukan penilaian titik resiko terhadap kontaminasi serta seberapa besar kontaminasi tersebut dapat dieliminasi atau diminimalkan dengan program GMP ataupun SSOP.

(3) Analisis Data
Proses identifikasi dijalankan untuk memastikan bahwa proses analisis data dilakukan untuk melihat tingkat frekuensi kontaminasi dijalankan.  Nilai frekuensi ini dianalisis sebagai bentuk bagian untuk melihat frekuensi tingginya resiko tersebut muncul.

Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk mengoptimalkan implementasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Sabtu, 11 Januari 2014

Seleksi Supplier dalam Industri Pangan

Dalam melakukan pengembangan program keamanan pangan, adalah menjadi hal yang penting proses seleksi pemasok dijalankan.  Beberapa perhatian penting dalam perlu menjadi nilai lebih yang kuat bagaimana industri pangan bisa melakukan proses seleksi dan pengendalian terhadap pemasok yang masuk ke dalam industri tersebut.

Berikut adalah tahapan proses seleksi pemasok yang dapat dijalankan dalam melakukan proses pemilihan terhadap pemasok yang tepat dan strategis.

(1) Melakukan analisis sistem
Evaluasi sistem operasional dari pemasok yang akan menyuplai produk ke dalam industri kita.  Pastikan bahwa pemasok tersebut memiliki sistem yang tepat untuk memastikan konsistensi kualitas dan kuantitas terpenuhi.  Khusus dalam industri pangan, kebutuhan untuk memiliki program keamanan pangan internal menjadi nilai lebih bagi industri tersebut untuk diterima sebagai pemasok.
Apabila pemasok tersebut telah memiliki sertifikasi keamanan pangan, seperti HACCP, ISO 9001 ataupun ISO 22000, maka perusahaan tersebut telah memastikan bahwa proses penanganan keamanan pangan sesuai dengan standar persyaratan.

(2) Analisis sampel produk
Ada baiknya sebelum menjalankan proses penetapan pemasok, industri pangan melakukan proses analisis terhadap sampel produk yang masuk.  Selain melihat kesesuaian kualitas, industri pangan tersebut harus juga melakukan pemeriksaan kesesuaian keamanan pangan.  Seperti memastikan bahwa persyaratan terhadap bebas kontaminasi dalam produk harus dipastikan seminimal mungkin sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam perusahaan.

(3) Audit Pemasok
Untuk lebih memastikan bahwa pemasok menjalankan proses produksi atau penyediaan barang sesuai dengan persyaratan, tidak ada salahnya apabila dilakukan proses audit kepada pemasok.  Lakukan penetapan standar audit pemasok yang tepat dalam perusahaan. 

Lakukan proses seleksi pemasok secara tepat dan efektif.  Langkah ini menjadi strategi penting dalam mengoptimalkan industri pangan dan lebih menjamin keamanan pangan pada produk yang dihasilkan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)