Minggu, 23 Juni 2024

Manfaat Penggunaan Konsultan HACCP

 Banyak perusahaan melakukan proses penyusunan atas Sistem Manajemen Keamanan Pangan dengan mempergunakan jasa konsultan HACCP, namun tidak sedikit, perusahaan juga tidak mempergunakan jasa konsultan HACCP. Apa pun alasannya, setiap perusahaan memiliki hal yang melatarbelakangi proses penggunaan atas konsultan itu sendiri. Namun, tidak ada salahnya perusahaan mempertimbangkan penggunaan konsultan HACCP dalam proses penetapan atas penyusunan sistem yang mereka miliki.

Berikut ini adalah manfaat yang dapat perusahaan dapatkan dengan menggunakan jasa konsultan HACCP.

(1) Mengembangkan Kompetensi Keamanan Pangan dengan Tepat

Penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan berjalan dengan menyertakan peranan dari Tim Keamanan Pangan yang tepat.  Dalam beberapa situasi, tim keamanan pangan yang dimiliki oleh perusahaan belum memiliki kompetensi yang tepat dalam pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Kehadiran konsultan dapat membantu untuk meningkatkan kompetensi, baik dengan melalui pelatihan ataupun dengan melalui peningkatan atas nilai kompetensi pada tim keamanan pangan.

(2) Melakukan Validasi Atas Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Penggunaan konsultan dapat membantu untuk menjalankan proses validasi atas Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Dalam proses penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, perusahaan diminta untuk menjalankan proses validasi terlebih dahulu untuk memastikan bahwa Sistem Manajemen Keamanan Pangan mengikuti baku referensi yang sesuai dengan persyaratan yang ada. Dimana proses referensi tersebut dapat melaui jurnal ilmiah, pengalaman atau tenaga ahli. Konsultan HACCP. 

(3) Melakukan Proses Verifikasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Pelaksanaan atas verifikasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan dijalankan melalui mekansme pemeriksaan atas CCP/OPRP, pengujian produk, audit internal/eksternal, serta proses analisis atas efektifitas dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Proses verifikasi pada awal proses pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan dijalankan pertama kali dapat dilakukan oleh konsultan HACCP. Proses verifikasi dijalankan untuk memastikan bahwa dokumen yang ada sudah terlengkapi dengan tepat.

(4) Pemenuhan Atas Persyaratan PRP

Konsultan HACCP dapat membantu pemenuhan atas persyaratan PRP, seperti memberikan input atas infrastruktur bangunan, peralatan maupun pendukung fasilitas lainnya. Dimana pemenuhan tersebut harus dijalankan dengan tepat agar memenuhi persyaratan keamanan pangan dan terhindar dari kontaminasi silang. Optimalisasi atas ruang dan bangunan harus diselaraskan dengan pemenuhan atas persyaratan keamanan pangan.

(5) Pendampingan Proses Sertifikasi

Hal ini menjadi bagian penting dalam proses audit sertifikasi. Dimana konsultan dapat memberikan dukungan pendampingan seperti penyiapan dokumen serta bagaimana perusahaan dapat memahami pemenuhan persyaratan keamanan pangan sebagai bentuk implementasi dalam organisasi.

Mempertimbangkan atas manfaat tersebut. Mungkin ada baiknya perusahaan mempertimbangkan penggunaan konsultan HACCP dalam proses penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Rabu, 23 November 2022

Mengenal Penerapan HPC 420 dalam Industri Kemasan Non Food

 Konsep atas prinsip penerapan keamanan produk untuk jenis produk non food diperuntukan terkait dengan persyaratan yang berhubungan dengan standar personal care yang ditetapkan oleh beberapa merk ternama pada kemasan non food.  Dalam teknik implementasinya perusahaan dapat memastikan bagaimana konsep dan prinsip tersebut dijalankan pada kemasan yang mendukung produk personal care agar produk yang dimaksud tersebut aman. Lalu bagaimana penerapan dapat dijalankan pada perusahaan kemasan?

(1) Mengaplikasikan Sistem Manajemen Mutu

Pelaksanaan atas persyaratan Sistem Manajemen Mutu dijalankan dalam perusahaan, dapat melalui penerapan atas prinsip manajemen mutu.  Prinsip manajemen mutu yang dilakukan terkait dengan risk assessment dan konsep PDCA dimana dalam penerapannya dipastikan bahwa Sistem yang dimiliki oleh perusahaan.  Pelaksanaan atas Sistem Manajemen Mutu ini akan sangat dipermudah apabila perusahaan telah menetapkan ISO 9001 sebagai proses sertifikasi.

(2) Mengembangkan Product Safety

Memastikan bagaimana keamanan produk dijalankan dengan melakukan penyusunan perencanaan product safety. Pelaksanaan atas product safety dilakukan dengan pendekatan HACCP, dimana organisasi diminta untuk melakukan analisis atas keamanan produk dan menetapkan tindakan pengendalian yang dijalankan atas penanganan pengendalian keamanan produk dari potensi ketidakamanan yang akan muncul. Termasuk di dalamnya adalah validasi dan verifikasi atas keamanan produk.

(3) Mengaplikasikan Pengujian Produk

Proses pengujian ini dilakukan secara tepat dan efektif untuk memastikan bahwa hasil pengujian produk realiable dan sesuai dengan spesifikasi.  Adopsi terkait dengan penerapan profisiensi dan realibilitas menjadi bagian penting untuk dijalankan oleh organisasi.  Lakukan proses pembandingan atas hasil uji sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pada Standar ISO 17025.

Bagaimana perusahaan Anda melakukan pengembangan atas Standar HPC 420? Lakukan proses perencanaan sistem yang tepat untuk dapat mengembangkan dan mengimplementasikan persyaratan yang terkait dengan standar HPC 420. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Sabtu, 13 Agustus 2022

Mengembangkan Sistem Manajemen Keamanan Pada Sektor Pergudangan dan Distribusi

 Banyak yang melihat bahwa keamanan pangan lebih terfokusi pada sektor produksi/industri pengolahan produk pangan.  Namun, secara prinsip penerapan keamanan pangan terbentuk juga meliputi kepada rantai pangan.  Rantai pengan ini juga masuk ke dalam ranah supply chain, yang salah satunya adalah penanganan keamanan pangan untuk area pergudangan dan pendistribusian. 

Sudah sepaturnya sistem pergudangan dan distribusi pangan yang memfasilitasi produk pangan memenuhi standar persyaratan keamanan pangan yang efektif. Bahkan tidak sedikit sistem manajemen bersertifikasi, seperti BRC, FSCC dan ISO 22000 yang mengakomodir bagian ini. Untuk dapat lebih mengoptimalkan bisnis terkait dengan pergudangan dan distribusi, tidak ada salahnya perusahaan mulai mempertimbangkan proses sertifikasi yang terkait dengan sektor yang dimaksud. Lalu bagaimana proses pengembangan ini akan dijalankan.

Langkah 1: Mendesain Lay Out Gudang

Sistem pergudangan sebaiknya didesain dengan tepat, akomodasi yang penting adalah terkait dengan bagaimana alir barang serta personel yang bertanggung jawab dalam gudang itu berjalan. Sistem pencegahan atas kontaminasi silang harus dikembangkan untuk dapat memastikan bahwa produk yang tersimpan dalam gudang tidak rusak atau terkontaminasi.  Mempertimbangkan karaktertisik bahan baku serta material yang dilakukan proses penyimpanan pada gudang.

Langkah 2: Mengelola Resiko

Pengelolaan resiko atas produk menjadi bagian yang penting untuk dipastikan dijalankan. Resiko yang menjadi kriteria pengendalian adalah yang terkait dengan keamanan pangan, fraud maupun pemalsuan. Setiap resiko harus teridentifikasi untuk kemudian dilakukan proses pengenalian lebih lanjut.

Langkah 3: Pelatihan dan Awareness

Memastikan bahwa setiap karyawan yang bekerja mendapatkan pemahaman yang efektif atas pelatihan keamanan pangan. Pembentukan kesadaran dijalankan melalui budaya yang tepat serta pendesaianan sistem kompetensi yang akurat sehingga pengembangan atas Sistem Manajemen Keamanan Pangan dapat berjalan dengan efektif.

Langkah 4: Penyusunan Dokumen

Menetapkan dokumen dan sistem yang dapat membentuk proses perusahaan berjalan sesuai dengan persyaratan keamanan pangan termasuk di dalamnya bagaimana sistem berjalan konsiten dan dapat teraudit.  

Bagaimana langkah yang digambarkan di atas? Dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, pemahaman penting harus dapat dipastikan untuk dapat memastikan bahwa sistem adalah salah satu penunjang nilai kompetitif positif dalam bisnis. Lakukan pencarian referensi eksternal yang tepat dalam pengembangan desain keamanan pangan dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Minggu, 06 Maret 2022

5 Kesalahan Dalam Mendesain Lay Out Industri Pencucian Sarang Burung Walet

Perancangan atas instalasi pencucian sarang burung walet dipastikan harus memenuhi persyaratan yang terkait dengan persyaratan HACCP dan persyaratan yang ditetapkan negara tujuan untuk melakukan proses ekspor sarang burung walet.  Banyak pelaku bisnis sarang burung walet yang dalam menyusun desain/lay out sarang burung walet membuat lay out yang tidak tepat.

Secara prinsip, pembuatan lay out sarang burung walet didesain sesuai dengan pabrik pangan lainnya. Namun, dalam pembuatan lay out terdapat regulasi yang ditetapkan oleh negara tujuan ekspor. Berikut ini adalah 5 (lima) kesalahan yang sebaiknya dihindari oleh pelaku usaha sarang burung walet dan industri pangan lainnya terkait dengan penyusunan lay out.

(1) Tidak Melakukan Risk Assessment

Dalam menetapkan lay out, perusahaan harus memperhatikan risk assessment atas produk, lingkungan, maupun arus personel dan proses produksi. Risk assement ini dilakukan dengan melihat faktor potensi kontaminasi yang dapat muncul, seperti bahaya biologi (termasuk di dalamnya mikrobiologi), fisik, serta kimia. Proses risk assessment dilakukan dengan kehati-hatian dan kajian yang tepat untuk menghindarkan kesalahan dalam melakukan risk assessment.

(2) Tidak Mempertimbangkan Faktor Persyaratan GMP/SSOP

Dalam penentuan lay out, harus dipastikan bagaimana penempatan sarana dan fasilitas personel yang tepat. Pengolahan limbah serta bagaimana proses penanganan sanitasi akan dijalankan.  Penetapan atas persyaratan terkait dengan regulasi yang berhubungan dengan GMP/SSOP.  

(3) Tidak Melakukan Analisis Flow Process

Banyak pemain sarang burung walet yang tidak memahami secara komprehensif atas flow process dari pengolahan/ pencucian sarang burung walet itu sendiri.  Ketidakpahaman tersebut dapat menyebabkan kondisi yang tidak efisien terkait dengan alir proses. Sehingga proses menjadi tidak efisien dan tidak sesuai dengan standar persyaratan yang telah ditetapkan.

(4) Tidak Menghitung Luasan Area dengan Tepat

Bagaimana perhitungan atas luasan area dijalankan dengan tepat dan efektif.  Luasan diperhitungkan sesuai dengan kebutuhan proses, mesin serta personel. Ruangan yang terlalu sempit dapat menyebabkan adanya kontaminasi atas produk.

(5) Tidak Mempertimbangkan Supply Chain Management

Penetapan ukuran gudang bahan baku, kemasan serta produk jadi sebaiknya dievaluasi dengan tepat. Diusahakan agar produk tidak terkontaminasi dan dapat terkendali selama penyimpanannya. Supply chain harus dikelola dengan baik sehingga tidak ada waktu tunggu yang tinggi dalam pengendalian produk.

Bagaimana dengan proses penyusunan desain/ lay out industri pangan Anda? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk dapat menjaga kualitas dan keamanan sarang burung walet/produk pangan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Minggu, 27 Februari 2022

Menjalankan Verifikasi Alur Proses yang Tepat dalam Penyusunan Sistem HACCP

 Penerapan standar keamanan pangan dalam perusahaan diaplikasikan melalui sistem HACCP.  Sistem HACCP secara prinsip telah dipergunakan dan diadopsi pada seluruh sistem keamanan pangan, seperti ISO 22000, FSSC maupun sistem sertifikasi lainnya. Keterkaitan ini merupakan bagian dari klausul yang dipersyaratkan dalam standar keamanan pangan.

Namun tidak sedikit perusahaan yang dalam menyusun alur proses mengalami kesulitan dan terdapat kesalahan dalam proses penyusunannya.  Untuk dapat menyusun alur proses secara tepat, berikut ini beberapa hal yang penting menjadi perhatian ketika melakukan proses penyusunannya.

(1) Memastikan Alur Proses Dari Bahan Baku Sampai Dengan Pengiriman Keluar Area Pabrik

Ruang lingkup dari alur proses memperhatikan tahapan mulai dari bahan baku sampai dengan ketika dilakukan proses mulai dari bahan baku sampai dengan produk tersebut keluar area pabrik untuk proses pengiriman.  Mengidentifikasi setiap tahapan proses dengan lengkap, dapat dilakukan dengan melakukan pemantauan langsung di lapangan serta melibatkan prinsip kerja tim.  Proses penetapan alur proses harus dapat dipastikan melibatkan seluruh tim yang ada dalam perusahaan.

(2) Melakukan Verifikasi On-site Alur Proses

Terdapat beberapa kondisi yang harus diperhitungkan dan sangat penting proses verifikasi dilakukan secara on-site. Perubahan pada alur proses dapat dilakukan dengan melakukan audit di lapangan. Dimana setiap tahapan proses yang ada terkait dengan tahapan proses yang dijalankan. Selain melakukan pemastian alir proses, tim juga mengidentifikasi atas peralatan dan proses yang dijalankan terkait dengan potensi bahaya yang muncul.

(3) Melakukan Konfirmasi Proses

Dalam kegiatan proses verifikasi yang dijalankan sesuai dengan standar perysaratan yang ditetapkan, termasuk di dalamnya adalah memastikan bahwa proses sudah dapat terminimalkan atas potensi bahaya yang muncul.  Apabila masih terdapat tindakan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan tahapan proses yang tepat, maka proses dapat dikoreksi untuk mendapatkan status pengendalian optimal dari bahaya keamanan pangan.

Pelaksanaan atas tahapan alir proses menjadi bagian penting dalam penetapan HACCP di dalam perusahaan. Pengendalian serta penetapan atas proses meminimalkan resiko dijalankan untuk dapat menghasilkan proses yang aman. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Selasa, 26 Mei 2020

Desain Lay Out yang Tepat Pada Industri Pengolahan Sarang Walet

Industri pengolahan sarang walet adalah industri pangan yang potensial, khususnya untuk market luar negeri seperti China, Amerika dan Australia.  Banyak pemain yang bergerak dalam industri ini, namun tidak sedikit yang belum memhami lay out yang tepat dalam proses pengolahan sarang walet.
Kerugian yang didapatkan oleh perusahaan karena kesalahan lay out adalah banyak sekali, salah satu dari kerugian tersebut adalah potensi kegagalan dari audit kelulusan registrasi veteriner, kegagalan audit HACCP serta tidak efisiennya proses yang dimiliki.

Untuk mencegah potensi kerugian tersebut, berikut ini adalah beberapa hal yang dapat diperhatikan terkait dengan proses pendesainan lay out industri pengolahan sarang walet.

(1) Memastikan Adanya Pemisahan Antara Material Bersih dan Material Kotor
Dalam desain lay out, penempatan antara material bersih dan material kotor harus terpisahkan.  Material kotor adalah material yang masih tercampur dengan kontaminan fisik seperti bulu dan kotoran yang beresiko tinggi dalam mencemari material bersih.  Lokasi pengolahan serta peralatan yang dipergunakan harus dipastikan terpisah antara material bersih dan material kotor.

(2) Mengatur Pergerakan Personel, Barang dan Peralatan
Lay out harus mampu memastikan bahwa pergerakan personel, barang dan peralatan tidak terjadi kontaminasi silang yang dapat menyebabkan produk menjadi tidak aman. Penetapan alir udara juga menjadi bagian yang harus diperhatikan dalam proses penetapan lay out tersebut.

(3) Penempatan Ruang Proses
Ruangan proses harus ditetapkan sesuai dengan alir proses. Mengusahakan tidak terdapat proses balik yang beresiko terjadi kontaminasi. Ketersediaan ruangan yang dipersyaratkan wajib dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan seperti ruang ganti, ruang penyimpanan kemasan serta ruangan lainnya adalah penting untuk tersedia.

Bagaimana proses penyusunan lay out di industri pengolahan sarang walet Anda? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk memastikan bahwa lay out yang dimiliki sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan.(amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Rabu, 20 Mei 2020

Menyusun Sistem FSSC Pada Produk Kemasan

Penetapan sistem manajemen keamanan pangan dalam produk kemasan, sedikit berbeda dengan proses penyusunan sistem FSSC pada produk pangan.  Adapun untuk jenis kemasan itu sendiri, terdapat perbedaan dalam proses penyusunan sistem yang dijalankan.  Terdapat penetapan kategori atas produk kemasan, yaitu produk kemasan dengan kategori high hygine dan produk kemasan dan kategori low hygiene.

Perbedaan dari penetapan sistem yang dilakukan adalah pada proses penetapan sistem PRP (Pre Requisite Program) yang dijalankan.  Produk dengan kategori high hygiene memiliki proses penetapan PRP yang lebih ketat karena memiliki potensi resiko yang tinggi apabila tidak terproses dengan tepat dalam proses pengolahan pangan.

Sekilas perbedaan tersebut tidak berbeda dengan produk pangan, namun produk low hygiene memiliki konsep atas penetapan PRP disesuaikan dengan analisis resiko yang dilakukan.  Penerapan atas pengelolaan keamanan pangan pada produk kemasan juga tidak luput kepada sistem identifikasi bahaya yang spesifik pada setiap tahapan proses. Perusahaan diminta untuk melakukan proses analisis atas komposisi dari material pembentuk kemasan tersebut. Ada baiknya melakukan kajian atas spesifikasi bahan dengan tepat dan efektif.

Proses pengujian yang dijalankan terhadap aspek control measure, hal ini dilakukan untuk memastikan setiap tindakan yang dilakukan dalam proses pengendalian bahaya sangat efektif untuk dapat dijalankan. Pengendalian bahaya pada pengelolaan produk kemasan, harus dijalankan sesuai dengan best practice yang tepat.


Bagaimana dengan penerapan FSSC pada produk kemasan di industri Anda? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam penyusunan FSSC pada produk kemasan yang ada dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)