Rabu, 26 Desember 2012

Pengembangan Sistem Preventive Maintenance dalam HACCP

Dalam melakukan kegiatan penyusunan sistem, khususnya sistem industri pangan, pengembangan sistem yang terkait dengan proses pemeliharaan dan pengembangan maintenance adalah suatu konsep yang penting untuk diperhatikan. Berikut adalah beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan dalam menyusun sistem pemeliharaan pada industri pangan itu sendiri. Lalu apa saja yang menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem preventive maintenance itu sendiri.

(1) Pengembangan Jadwal Pemeliharaan yang Tepat

Kegiatan dalam preventive maintenance ditujukan untuk mengembangkan konsep mencegah bukan memperbaiki. Menyusun suatu bentuk sistematis proses untuk memastikan adanya suatu kegiatan pemeliharaan yang tepat sebelum penyimpangan muncul. Mengapa hal ini menjadi suatu bentuk hal yang sangat penting dalam industri pangan? Industri pangan adalah jenis industri yang memiliki konsep mencegah bukan memperbaiki, jadi adalah suatu hal yang sangat penting agar dapat memastikan bahwa proses dan perencanaan produksi dijalankan secara tepat. Penyimpangan terhadap pemeliharaan mesin dapat memberikan resiko kepada kualitas bahkan keamanan pangan pada produk itu sendiri.

(2) Proses Aplikasi Sistem Kalibrasi

Penyusunan sistem kalibrasi ditetapkan sebagai bagian dari proses verifikasi HACCP. Kegiatan kalibrasi yang tepat dan akurat dapat diaplikasikan secara maksimal untuk dapat memastikan bahwa program kalibrasi yang ditetapkan tersebut dapat menjaga standar validasi dari suatu konsep keamanan pangan yang ditetapkan dalam suatu proses keamanan pangan itu sendiri. Banyak hal yang menarik untuk diperhatikan bahwa dalam kegiatan kalibrasi dan verifikasi harus dapat memastikan bahwa kegiatan preventive maintenance adalah memastikan bahwa sistem kalibrasi dan verifikasi juga dapat dilaksanakan dengan baik dan tepat.

(3) Proses Optimalisasi dan Pengembangan Pengukuran

Kegiatan dalam proses operasional dari proses preventive maintenance yang dapat menunjang kegiatan pengukuran parameter keamanan pangan. Ketidaksesuaian dalam pengukuran ini dapat mengakibatkan kemunculan resiko keamanan pangan yang tinggi yang mana sebelumnya sudah dipertimbangkan untuk dapat dievaluasi pada bagian parameter pengukurannya.

Dalam menyusun sistem manajemen keamanan pangan pertimbangan untuk melakukan program preventive maintenance untuk dapat mengoptimalkan sistem manajemen keamanan pangan (HACCP) . (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Senin, 10 September 2012

Pentingnya Pelatihan Keamanan Pangan pada Industri Perikanan


Proses pengolahan perikanan, seperti umumnya pada industri makanan lainnya membutuhkan adanya Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan terdiri atas beberapa tahapan penyusunan sistem:

 (1) GMP (Good Manufacturing Practice)

 Sistem awal Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang mengatur kebutuhan mendasar sebagai persyaratan utama dijalankannya Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Adapun pengaturan yang ditetapkan adalah sistem (a) Bangunan dan lay out pabrik, penyediaan bangunan yang ditetapan sesuai dengan standar persyaratan yang ditetapkan dan lay out juga harus memperhatikan alir proses, alir masuk dan keluarnya personel maupun proses alir masuknya limbah dan material (b) Peralatan kerja, peralatan kerja yang digunakan dalam industri pangan tidak diperbolehkan mengandung bahan kimia dan material yang tidak dapat memberikan pengaruh kontaminasi silang kepada bahan makanan dan juga dapat menjadi infestasi dari serangga atau mikroba, sehingga desain dari peralatan harus dipastikan mudah untuk dibersihkan (c) Personnel hgygiene dimana menjelaskan proses sanitasi terhadap personel/ karyawan yang bekerja di dalam perusahaan, memastikan bagaimana melakukan pengendalian dan tata cara pencucian tangan yang dalam proses operasional, proses penanganan dan pengendalian seragam yang digunakan untuk bekerja, tata cara dan pengendalian status sakitnya karyawan dalam bekerja secara operasional di lapangan (d) Proses penanganan limbah, akan menjadi bagian yang sangat penting terhadap industri perikanan mengenai status penanganan limbah yang dihasilkan, hal ini menjadi penting karena adanya keterkaitan dengan regulasi termasuk di dalamnya adalah penanganan terhadap cara pemusnahan limbah yang dimaksud (e) Pest Control, dalam seluruh industri makanan, pest (serangga, tikus, maupun hewan pengganggu lainnya) dapat menjadi kontaminasi silang kepada produk makanan. Khususnya industri perkanan, resiko terhadap serangga dan efek kontaminasi silang akan sangat tinggi, mengingat jenis produk ini memiliki nilai protein yang tinggi dan mudah mengundang serangga dari aspek bau dari industi makanan itu sendiri. Good Manufacturing Practice yang ditetapkan dalam perindustrian

 (2) SSOP (Standard Sanitation Operational Procedure)

 Sistem terhadap sanitasi yang dijalankan di dalam proses operasional, adapun konsep dari proses pemastian tata cara pembersihan dan sanitasi terhadap peralatan kerja yang digunakan. Termasuk di dalamnya adalah tata cara untuk melakukan program kebersihan, cara dan metode pembersihan serta verifikasi dari proses kebersihan dan sanitasi dijalankan. Suatu proses sanitasi yang tepat dijalankan adalah jenis proses sanitasi yang memperhatikan kandungan kimia dari bahan pembersih yang digunakan termasuk di dalamnya adalah memperhatikan kandungan kimia yang ada di dalamnya yang kemudian disesuaikn dengan jenis material dan komposisi dari kandungan material yang ada di dalam dari bahan pangan yang dimaksud.

 (3) HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point)

 HACCP adalah metode yang awal yang dikembangkan untuk kebutuhan aspek jaminan keamanan pangan bagi astronot yang akan pergi ke luar angkasa. Bukankah akan sangat merepotkan apabila pada saat berada di luar angkasa, astronot tersebut mengalami sakit perut atau keracunan makanan? Prinsip terpenting dalam program HACCP adalah meminimalkan resiko yang muncul dan menghilangkan resiko keamanan yang muncul dalam proses operasional yang terkait dengan kontaminasi fisik, kimia dan biologi. Dalam system HACCP, terdapat delapan langkah yang terkait dengan proses penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Dalam system keamanan pangan hal yang sangat perlu diperhatikan adalah melakukan proses pengendalian terhadap batas kritis yang ada dalam standar pengendalian operasional pada setiap tahapan yang ada pada alir proses. Pelatihan terhadap Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang tepat adalah memastikan tersedianya Manual HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) yang mana dijadikan panduan dalam melakukan proses pengendalian terhadap titik kritis pada tahapan alir proses yang teridentifikasi.

 (4) Manual Manajemen Mutu

 Proses penyusunan terhadap dokumen manual dilakukan dengan mengadaptasi Sistem Manajemen ISO 22000:2005. Dimana di dalam proses penyusunannya, dilakukan penetapan dan penjelasan terhadap klausul-klausul yang ada dalam Standar ISO 22000:2005.

 (5) Penyusunan SOP (standard Operating Procedure)

 Pengembangan terhadap dokumentasi SOP dijalankan sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan untuk penetapan standar kualitas produk yang telah ditetapkan. SOP yang dibuat harus dipastikan jelas dan terstruktur sehingga informasi yang terkait dengan uraian pekerjaan yang dijalankan di lapangan untuk memastikan bahwa personel yang ada dapat memahami detail-detail dari tahapan proses sehingga batasan kualitas yang dihasilkan sesuai dengan standar persyaratan yang telah ditetapkan.

MENGAPA PELATIHAN DIBUTUHKAN?

 Satu hal yang pasti, penerapan dari industri perikanan membutuhkan komitmen dan konsistensi yang secara pasti dijalankan tanpa adanya pengecualian. Di mana dalam proses pelatihan hal yang menjadi tujuan adalah (1) menghasilkan individu karyawan yang terlatih dan kompeten dalam menjalankan sistem manajemen keamanan pangan (2) Mengubah budaya perusahaan untuk memastikan bahwa penetapan sistem terimplementasi bukanlah suatu keterpaksaan pada individu dalam perusahaan (3) meningkatkan kompetensi dari manajemen organisasi untuk dapat meningkatkan kompetisi dalam bisnis.

CARA DAN STRATEGI TERKAIT DENGAN PEMILIHAN PROVIDER PELATIHAN

 Perusahaan harus memperhatikan prinsip dan strategi yang harus diperhatikan untuk menggunakan jasa pelatihan eksternal di bidang keamanan pangan:

 (1) Kompetensi dari provider
Kompetensi dari tenaga pelatih yang akan memberikan arahan selama pelatihan menjadi suatu bentuk kompetensi unggulan. Sebaiknya perusahaan mencari provider yang memiliki instruktur yang memiliki latar belakang akademis dan pengalaman kerja yang memadai. Selain dari latar belakang tersebut, kompetensi interpersonal juga dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi dengan peserta pelatihan.

 (2) Silabus dan kurikulum pelatihan
Perhatikan poin-poin yang akan dimasukkan agenda dari kurikulum dan program pelatihan. Pelatihan yang baik akan dibentuk dalam format pelatihan terstruktur agar selama kurun waktu pelatihan dipastikan bahwa program pelatihan tersampaikan sesuai dengan harapan dari perusahaan itu sendiri.

 (3) Evaluasi efektifitas pelatihan
Tidak ada salahnya apabila perusahaan menanyakan kepada provider pelatihan untuk memastikan apakah tersedia teknik dan metode untuk melakukan evaluasi terhadap efektifitas pelatihan.

Untuk lebih jauh dalam memahami program pelatihan terhadap keamanan pangan di bidang industri perikanan maupun industri perikanan, konsultan kami akan membantu perusahaan Anda dalam melakukan pengembangan program tersebut.
Amaryllia Puspasari (amarylliap@yahoo.com),HP:08129369926

Rabu, 05 September 2012

Pest Clean: Integrated Pest Management dalam Industri Pangan

Banyak perusahaan yang mengalami banyak permasalahan dalam menangani pengendalian hama yang muncul dalam perusahaannya. Strategi untuk menggunakan solusi manajemen pest itu sendiri bukan hanya satu-satunya alternatif yang dapat digunakan dalam menghilangkan resiko hama yang ada dalam industri pangan. Karena sehebat apa pun jenis pengendalian hama yang digunakan, tetap dalam proses pengendalian hama penyebab utama dari kemunculan dari pest adalah bersumber dari sanitasi proses operasional yang tidak secara tepat dilaksanakan.

Ada baiknya perusahaan itu sendiri menerapkan pest control management yang berintegrasi dengan konsep sanitasi yang tepat. Pengelolaan dari sanitasi menjadi kunci yang dapat digunakan untuk memastikan bahwa resiko dari kemunculan pest sudah tertangani dari sumbernya. Pengembangan program sanitasi itu sendiri harus diintegrasikan dengan teknik pengendalian hama yang tepat. Artinya ketika suatu bentuk skema sanitasi dijalankan maka konsep pengendalian hama sudah dapat dijalankan sesuai dengan pengembangan dari program sanitasi itu sendiri. Dimana hal tersebut dapat mencegah dari potensi pengendalian hama yang dilaksanakan secara berlebihan dengan mengunakan teknik aplikasi kimia yang tidak diperlukan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Jumat, 20 Juli 2012

Tahapan dan Langkah Penyusunan Manual HACCP

Dalam industri perikanan, proses penyusunan manual HACCP menjadi suatu bentuk keharusan standar yang dipersyaratkan untuk memastikan bahwa industri perikanan dapat beroperasi dan melakukan proses ekspor ke luar negri. Terdapat beberapa standar grading yang berkaitan dengan proses sertifikasi yang dilakukan oleh pemerintah, grading ini akan memberikan kualifikasi yang dibutuhkan untuk memenuhi standar ekspor.
Lalu bagaimana langkah yang tepat untuk melakukan proses penyusunan terhadap manual HACCP. Dalam proses penyusunan manual HACCP berikut adalah langkah-langkah yang harus dilakukan oleh pihak Tim HACCP dalam sebuah perusahaan untuk membuat manual HACCP yang ada dalam perusahaan.

(1) Membentuk Tim HACCP

 Perusahaan membentuk tim HACCP yang merupakan bagian dari organisasi itu sendiri, atau karyawan dari perusahaan. Bagaimana dengan latar belakang pendidikan, latar belakang pendidikan adalah hal yang penting, pastikan keberagaman latar belakang pendidikan memiliki satu alir yang kuat pada Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Pada industri perikanan, sebaiknya salah satu dari karyawan yang menjadi tim HACCP memiliki latar belakang teknologi pangan ataupun teknologi hasil perikanan. Namun apabila tidak terdapat karyawan yang memiliki latar belakang seperti yang dimaksud maka ada baiknya perusahaan memberikan pelatihan kepada karyawan yang dimaksud terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan, khususnya pada bidang perikanan. Pilihlah provider pelatihan eksternal yang dapat memenuhi standar dan persyaratan untuk pelatihan di bidang perikanan. Dimana instruktur dari pelatihan tersebut memiliki latar belakang di bidang perikanan ataupun berpengalaman di dalam bidang industri perikanan.

(2) Menyusun deskripsi produk

 Deskripsi produk adalah bagian penting dari proses penyusunan awal, cari dan tetapkan deskripsi produk berdasarkan bahasa yang telah diklasifikasi dalam standar yang umum berlaku ataupun standar komersial yang ditetapkan. Ada baiknya satu manual HACCP menjelaskan seluruh tahapan yang terdapat dalam produk yang spesifik tersebut. Apabila terdapat banyak modifikasi dari produk yang dihasilkan, sebaiknya dilakukan proses pengelompokan produk yang dimaksud.
Dalam deskripsi produk, dalam manual akan dijelaskan informasi yang terkait dengan proses singkat dari proses yang dimaksud, sistem pengawetan, sistem pengemasan, informasi dari persyaratan pengguna, sistem traceability dan lainnya.

(3) Menyusun alir proses

 Tim HACCP harus melakukan proses perembukan terlebih dahulu mengenai alir proses yang dijadikan panduan untuk melakukan proses produksi terhadap material produk yang dimaksud. Buatlah dalam bentuk diagram alir flow chart terhadap tahapan proses, seluruh tahapan proses yang ditetapkan adalah mulai dari bahan baku, penerimaan bahan baku, proses, alir air, alir sampah/ limbah, reproses, maupun alir lainnya yang terkait dengan tahapan proses. Namun satu hal yang pasti harus diperhatikan adalah penghilangan terhadap alir yang menjelaskan pemeriksaan kualitas, atau QC Inspection, tahapan proses ini tidak dapat dimasukkan ke dalam alir proses.

(4) Verifikasi terhadap alir proses

 Setelah menyusun draft awal dari penyusunan tahapan alir proses tersebut maka kemudian dilakukan proses pemeriksaan yang berhubungan dengan alir proses yang dimaksud dengan kondisi aktual untuk memastikan bahwa kondisi dari draft yang sebelumnya ditetapkan dengan status aktual dari proses yang ada di lapangan. Apabila muncul koreksi maka dilakukan proses koreksi terhadap status kesesuaian alir proses tersebut. Dalam proses verifikasi ini, hal yang salah satunya menjadi bagian penting mengapa proses ini perlu dilakukan adalah untuk kebutuhan analisis bahaya yang ditetapkan pada tahapan lanjutnya.

(5) Analisis Bahaya

 Bahaya yang ditetapkan sebagai bagian dari proses pengembangan terhadap rumusan HACCP adalah bagian yang paling penting. Tim perlu mendetailkan dan menjelaskan type-type bahaya apa saja yang muncul dalam proses identifikasi bahaya tersebut. Adapun terdapat tiga jenis type bahaya yang berpotensi muncul dalam setiap tahapan yang ada dalam alir proses, berikut adalah uraian dari type bahaya tersebut:

 (a) Bahaya biologi, adalah bahaya yang muncul dari potensi kontaminasi mikrobiologis, potensi serangga ataupun dari virus ataupun parasit lainnya yang baik secara referensi ataupun dari data sebelumnya yang menjelaskan bagaimana kontaminan biologis tersebut muncul. Pada produk perikanan, hal yang sangat perlu diwaspadai adalah mikrobiologis dan parasit. Mengingat lokasi dan tempat dimana ikan tersebut berkembang maka hal tersebut menjadi hal yang sangat peting untuk diidentifikasi dan diuji keberadaannya.
Kontaminasi mikrobiologi dapat dimunculkan juga akibat kontaminasi yang muncul dalam setiap tahapan proses. Kontaminasi ini muncul dari kontaminasi peralatan, kontaminasi dari individu pekerja dan ataupun kontaminasi yang disebabkan oleh kesalahan dari proses penanganan produk dalam proses.

(b) Bahaya kimia, adalah jenis bahaya yang ditimbulkan dalam kontaminasi kimia seperti logam berat,bahan kimia tambahan maupun bahaya kimia dari antibiotik ataupun residu pestisida. Pada produk perikanan, proses pengujian logam berat menjadi suatu bagian yang penting untuk dilakukan pengujian dan pemeriksaan pada lokasi dimana produk perikanan tersebut hidup. Namun ada baiknya juga dilakukan proses pemeriksaan kandungan bahan kimia dalam produk itu sendiri. Adapun kontaminan kimia tetap akan muncul selama masa proses misalnya adanya pembentukan histamin pada produk perikanan yang akan muncul apabila produk perikanan tersebut berada pada temperatur di atas 4 dC.

(c) Bahaya fisik, adalah jenis bahan yang disebabkan oleh benda asing yang masuk ke dalam produk sebagai akibat proses yang tidak sesuai dengan standar GMP. Kontaminan fisik bisa disebabkan oleh filth yang muncul dari serangga, ketidakbersihan selama proses penanganan produk, runtuhan atau rontokan dari bangunan maupun kontaminasi dari peralatan kerja, termasuk juga serpihan logam.
Dalam proses analisis bahaya selain melihat dan mengidentifikasi jenis bahaya yang muncul, tim juga harus menganalisis sumber bahaya yang dimaksud. Berasal darimana sumber bahaya tersebut, lakukan proses penelusuran terkait dengan sumber bahaya tersebut. Penyusunan prosedur traceability dapat digunakan sebagai proses untuk melakukan proses pengamatan terhadap sumber kontaminasi tersebut.
Hal lanjutan yang akan dilakukan berikutnya adalah melakukan proses pemeriksaan terhadap signifikasi dari bahaya tersebut. Bahaya dinyatakan signifikan apabila bahaya tersebut memberikan dampak yang beresiko tinggi (dapat mengakibatkan kematian dan spektrum resiko cukup besar) dan memiliki nilai frekuensi yang tinggi, untuk frekuensi kerjadian dari bahaya yang dimaksud.

(6) Menetapkan titik CCP dari alir proses

Proses penetapan CCP yang dilakukan dalam alir proses menggunakan metode 5 langkah atau 6 langkah penetapan yang sudah baku dilakukan. Dalam tahapan ini, tim audit harus secara seksama mengamati alir proses dan memahami resiko yang muncul dari tahapan tersebut terhadap konsumen.
Lakukan proses analisis dan evaluasi yang tepat terkait dengan penerapan tahapan CCP yang dimaksudkan tersebut. Lakukan proses evaluasi secara tepat untuk memastikan bahwa tahapan CCP sesuai dengan referensi eksternal yang tepat.

(7) Melakukan proses pengendalian batas kritis

Dari titik CCP yang dimaksud, tim HACCP harus menetapkan status batas kritis yang akan ditetapkan dalam proses pengendalian titik CCP yang muncul sebagai proses pengendali batas kritis yang dimaksud. Lakukan penetapan batasan yang secara operasional dapat dijalankan, untuk kemudian lakukan proses penetapan batasan kritis dari proses pengendalian yang dimaksud.
Lakukan proses tahapan penyusunan manual HACCP ini dalam industri perikanan anda, hal yang terpenting dilakukan adalah jangan lupa untuk memastikan bahwa manual HACCP yang disusun sudah sesuai dengan standar persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan pemerintah yang berhubungan dengan industri perikanan itu sendiri. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Pengendalian Manajamen Kalibrasi dalam Industri Pangan

Dalam proses implementasi industri pangan termasuk di dalamnya adalah perikanan, salah satu persyaratan yang menjadi bagian penting dalam tahapan pengukuran adalah melakukan program kalibrasi secara tepat. Program kalibrasi yang menjadi fokus terpenting dalam industri pengolahan hasil tangkapan laut dapat menjadi nilai penting dan strategis dalam proses penjaminan keamanan pangan dalam proses yang dijalankan itu sendiri.
Bagaimana menetapkan tahapan implementasi yang tepat dalam penyusunan program kalibrasi dalam industri perikanan. Berikut adalah tahapan-tahapan yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa program kalibrasi yang dijalankan menjadi suatu bentuk sistem yang terencana dan dapat terpantau secara tepat dan efektif dalam industri pengolahan perikanan.

(1) Proses identifikasi peralatan
Lakukan proses pemberian identitas peralatan yang digunakan. Pastikan identitas tersebut menunjukkan pada lokasi, nomor seri maupun informasi yang berhubungan dengan karakteristik unik peralatan tersebut. Kebutuhan dari proses identifikasi peralatan ini akan mengarah kepada konsep untuk memastikan bahwa peralatan ini sesuai penggunaannya dan tidak terdapat resiko untuk digunakan pada pekerjaan lainnya. Pentingnya untuk memastikan pengendalian alat ini dilakukan karena dalam proses kalibrasi, suatu usaha atau industri harus memastikan bahwa dalam selang waktu tertentu sistem kalibrasi dalam peralatan tersebut masih dapat menjaga peralatan yang dimaksud dari resiko mengalami ketidaksesuaian.

(2) Penetapan status kalibrasi dan verifikasi
Perusahaan sebaiknya menentukan status pengendalian peralatan tersebut, dapat dilakukan proses kalibrasi dan verifikasi, dipilih salah satunya. Apa yang dimaksud dengan proses kalibrasi, proses kalibrasi adalah kegiatan untuk memastikan kesesuaian dan fungsi peralatan berdasarkan standar tertentu yang mana standar tersebut telah dilakukan pengujian dengan ketelitian yang sesuai. Sedangkan verifikasi adalah proses pemastian kesesuaian alat atau pengukuran terhadap suatu alat atau metode pengukuran tertentu yang dipastikan oleh perusahaan sebagai cara yang tepat.

(3) Proses penanganan dan pencatatan peralatan
Proses kalibrasi harus dipastikan tercatat dan tersedia laporan pencatatannya, lakukan proses evaluasi terhadap status kesesuaiannya berdasarkan kesepakatan ditetapkan dalam proses kalibrasi tersebut. Apabila ditemukan ketidaksesuaian dalam proses kalibrasi ini, maka pihak perusahaan harus memastikan bahwa peralatan tersebut dievaluasi dan produk yang dihasilkan dalam selang waktu tersebut diperiksa ulang.
Dalam proses penjaminan keamanan pangan, kegiatan kalibrasi menjadi salah satu metode dari tindakan pencegahan pengendali kritis. Khususnya dalam bidang perikanan dimana faktor temperatur menjadi salah satu batasan kritis dalam memastikan kualitas dan keamanan produk terjamin dengan baik. Lakukan proses implementasi sistem kalibrasi dalam bisnis dan usaha Anda, pastikan adanya referensi eksternal yang tepat untuk memastikan program kalibrasi tersebut dijalankan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Senin, 16 Juli 2012

Aplikasi Pest Control dalam Industri Pangan

Banyak perusahaan yang bergerak dalam industri pangan melihat bahwa pest control program adalah suatu jenis persyaratan yang wajib untuk diadakan namun melupakan bahwa proses aplikasi pest control yang dijalankan tersebut bukanlah hanya sekedar aplikasi saja, melainkan juga program yang penting untuk memastikan bahwa proses keamanan pangan sudah terjaga dan terkendali secara tepat.
Bagaimana menjalankan proses aplikasi pest control yang tepat dalam industri perikanan

(1) Membangun perencanaan

Proses perencanaan adalah proses yang tepat untuk memastikan bahwa proses pest control dijalankan secara efektif dan optimal untuk dapat melakukan proses penyusunan perencanaan yang tepat dalam mengelola konsep pengembangan sistem aplikasi pest control tersebut. Apabila kegiatan pest control akan dikelola sendiri harus dipastikan bahwa proses pengembangan manajemen harus melakukan proses pengukuran efektifitas dari sistem yang dimaksud. Menetapkan fungsi personel yang harus menjalankannya termasuk proses sertifikasi dari personel yang bersangkutan.
Hal yang paling penting lainnya adalah membangun sistem pest control, dimana aplikasi dan konsep dari manajemen operasional harus menyediakan adanya proses verifikasi dan analisis data dalam memastikan bahwa pest control tersebut sudah dijalankan sesuai dengan persyaratan.

(2) Mengembangkan program evaluasi dari program pest control

Perusahaan harus membuat sistem evaluasi kerja yang efektif untuk memastikan bahwa program pest control terevaluasi secara tepat. Lakukan suatu bentuk mekanisme evaluasi yang tepat dan optimal untuk dapat memastikan bahwa proses pengembangan program memang dapat secara efektif dapat mengendalikan program pest control untuk memastikan terjaminnya kondisi bahwa produk aman dari potensi kontaminasi serangga.
Proses dan pengembangan pest control harus dipastikan bahwa proses pengendalian yang terkait dengan status manajemen keamanan pangan. Lakukan proses implementasi pest control yang tepat dalam industri perikanan Anda agar dapat memberikan hasil yang maksimal. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Jumat, 22 Juni 2012

Penyusunan Spesifikasi Bahan Baku yang Sesuai dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan

Proses penetapan spesifikasi produk bahan baku adalah salah satu persyaratan dokumentasi yang menjadi bagian yang penting dalam persyaratan keamanan pangan. Lalu bagaimana tata cara penyusunan spesifikasi bahan baku yang tepat sesuai dengan standar persyaratan keamanan yang dipersyaratkan? Berikut adalah tahapan yang dilakukan untuk menyusun spesifikasi dari bahan baku yang dimaksudkan tersebut.

(1) Membuat informasi dan detail dari bahan baku

Memberikan penjelasan yang detail terkait dengan karakteristik bahan baku yang ada dalam produk itu sendiri. Untuk jenis bahan baku yang merupakan bahan baku tunggal maka proses pendefinisian ditetapkan hanya berdasarkan karakteristik bahan baku tunggal tersebut, namun apabila bahan baku yang ditetapkan merupakan komposisi lengkap maka bahan baku yang dimaksud adalah bahan baku yang terdiri dari beberapa komposisi material bahan baku. Komposisi tersebut harus dijelaskan dalam bahan baku yang dimaksud.

(2) Menetapkan parameter kualitas

Penetapan kualitas bahan baku harus memperhatikan aspek fisik, kimia dan biologi. Penjelasan terhadap karakteristik material kualitas yang ada harus ditetapkan sesuai dengan standar persyaratan yang ditetapkan dalam referensi eksternal. Referensi eksternal yang ditetapkan juga terkait dengan parameter yang telah ditetapkan untuk karakteristik kualitas yang dipersyaratkan dalam standar persyaratan tersebut.

(3) Penetapan aspek allergent dalam produk

Melakukan proses penetapan pengendalian yang terkait dengan aspek allergent alam produk merupakan salah satu sistem proses pengendalian komposisi alergi dalam produk.

(4) Tata cara proses pelabelan produk

Menetapkan teknik dan mekanisme yang terkait dengan proses pelabelan yang telah ditetapkan dalam produk. Memastikan dan mengembangkan konsep serta mekanisme pelabelan menjadi salah satu faktor kritis yang ditetapkan dalam standar penelusuran dan identifikasi produk yang ada.

Lakukan pross penetapan penyusunan spesifikasi bahan baku sebagai nilai penting untuk pengendalian keamanan pangan yang kemudian ditetapkan berdasarkan standar persyaratan keamanan pangan yang ditetapkan dalam perusahaan. Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk memastikan bahwa penjaminan keamanan pangan dalam industri pangan/perikanan Anda dapat berjalan dengan tepat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Selasa, 19 Juni 2012

Pengembangan Produk Baru dalam Konsep Manajemen Keamanan Pangan

Dalam industri pangan, proses pengembangan terhadap produk baru adalah inovasi penting yang tidak boleh dianggap remeh. Proses pengembangan produk adalah langkah strategis yang harus dilakukan oleh industri pangan untuk mengoptimalkan posisi industri tersebut dalam persaingan di antara industri pangan lainnya. Lalu bagaimana konsep pengembangan produk ini diaplikasikan ke dalam konsep manajeman keamanan pangan yang berhubungan dengan program HACCP dan Sistem ISO 22000.

(1) Pentingnya pengkajian keamanan pangan sebelum menjalankan proses pengembangan produk baru

Dalam setiap kegiatan pengembangan produk baru, ada baiknya dilakukan proses pengkajian untuk melakukan proses pengamatan terhadap komposisi produk baru yang dimaksudkan tersebut, resiko dari bahan baku maupun proses yang beresiko terhadap pelanggan.

(2) Pengkajian regulasi dari pengembangan produk baru tersebut
Otomatis dalam regulasi pemerintahan, proses pengembangan produk baru harus mematuhi prosedur dan persyaratan kepatuhan yang terkait dengan produk baru yang dimaksudkan tersebut. Termasuk di dalamnya adalah pemastian jaminan keamanan pangan dari komposisi produk dan sistem pelabelan sesuai dengan standar persyaratan.

(3) Penyusunan dan implementasi dokumen keamanan pangan

Melakukan proses perumusan dan penetapan konsep dari sistem dokumentasi, prosedur, Standard Operating Procedure dan form kerja serta catatan kerja terkait lainnya yang berhubungan dengan sistem manajemen keamanan pangan dalam perusahaan. Dimana dalam pembuatan produk baru, skema sistematis dokumentasi juga perlu dikembangkan untuk mengoptimalkan aplikasi dan pengembangan sistem manajemen yang ada dalam perusahaan.
Lakukan proses pengembangan dan aplikasi yang tepat dalam penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan dalam perusahaan Anda. Konsep pengembangan dan implementasi dari pemahaman keamanan pangan ini menjadi suatu bentuk persyaratan mutlak dan penting untuk dipastikan dijalankan terkait dengan komitemn ISO 22000. Dengan komitmen ini, peningkatan bisnis dan kepercayaan konsumen terhadap bisnis Anda akan dapat secara lebih optimal meningkat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Jumat, 15 Juni 2012

Penyusunan SOP Recall pada Industri Pangan/ Perikanan

Dalam proses penerapan ISO 22000, adalah suatu bentuk hal yang sangat penting dan hukumnya wajib untuk memastikan tersedianya Standard Operating Procedure mengenai program recall. Apa yang dimaksud dengan program recall? Kegiatan program recall adalah suatu bentuk proses penerapan porgram verifikasi keamanan pangan, kegiatan ini dilakukan untuk memastikan adanya suatu bentuk aspek sistematis yang tepat dalam melakukan proses penarikan produk pangan/ perikanan ketika ditemukan ketidaksesuaian terkait dengan proses ataupun produk itu sendiri yang mana kemudian memberikan resiko tinggi kepada konsumen.
Lalu bagaimana proses yang tepat dalam melakukan proses penyusunan SOP Recall yang dimaksud dalam industri pangan/ perikanan.

(1) Merumuskan tata cara penarikan produk

Bagaimana proses penarikan harus dijalankan, apakah akan melalui jalur yang sama dengan proses distribusinya ataukah menggunakan skema khusus yang tepat. Proses pemberian informasi terhadap proses penarikan itu sendiri harus dapat dipastikan terinformasikan secara tepat untuk memastikan bahwa proses penarikan dijalankan sesuai dengan jalur yang tepat dan proses yang efektif.

(2) Menetapkan personel penanggung jawab proses recall

Tetapkan dan kembangkan struktur organisasi dari kegiatan recall itu sendiri. Informasikan mengenai siapa personel yang bertanggung jawab, jabatannya, cara menghubunginya serta sebatas apa ruang lingkup tanggung jawabnya.

(3) Tetapkan catatan dari proses recall

Susun dan kembangkan form yang terkait dengan proses recall yang dijalankan tersebut, proses pendokumentasian yang sangat penting adalah penetapan traceablity (mampu penelusuran) yang tepat dan dapat memastikan bahwa evaluasi recall yang dimaksud dapat berjalan secara optimal.

(4) Lakukan skenario recall test
Prosedur recall harus dipastikan teruji, sehingga proses dan penanganan yang terkait dengan proses recall itu sendiri harus dipastikan terevaluasi dalam status dan kondisi operasional yang tepat dalam pengembangan aspek recall yang ada.

(5) Proses sosialisasi

Sosialisasikan dan komunikasi program recall ini kepada seluruh personel dan karyawan yang memiliki tanggung jawab ke dalam proses dan program recall yang telah ditetapkan tersebut. Kembangkan dan evaluasi secara tepat apakah personel yang dimaksud benar-benar telah memahami tahapan dan proses recall tersebut.
Kembangkan sistem manajemen keamanan pangan dalam perusahaan Anda secara tepat dan akurat. Lakukan penggunaan referensi eksternal yang tepat untuk memastikan bahwa SOP yang dimiliki dalam perusahaan benar-benar telah dijalankan secara tepat sesuai dengan bentuk dan sistematika yang ada dalam standar ISO 22000 maupun program HACCP. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Sabtu, 09 Juni 2012

Penentuan Shelf Life Produk Perikanan Beku

Produk perikanan beku merupakan jenis komoditi produk dengan tingkat pengembangan yang beragam, selain dalam bentuk fish loin yang dibekukan juga tidak menutup kemungkinan untuk pengembangan produk lanjutannya ke dalam bentuk value added produk. Proses pembekuan dalam produk perikanan itu sendiri adalah hal umum yang dalam aspek praktisnya telah ditetapkan.
Salah satu hal terpenting dalam proses penyusunan sistem manajemen keamanan pangan adalah program penetapan nilai shelf life produk. Dimana hal ini adalah suatu tahapan penting dan kritis yang harus ditetapkan dalam sistem manajemen keamanan pangan. Lalu bagaimana melakukan proses penetapan shelf life dalam produk perikanan itu sendiri. Berikut adalah beberapa alternatif yang dapat digunakan oleh pelaku industri perikanan dalam menentukan shelf life produk

(1) Proses analisis referensi

Dalam proses ini, lakukan proses analisis yang terkait dengan referensi dan aspek study yang terkait dengan kesamaan jenis produk. Apabila referensi terhadap produk itu tidak ada, lakukan proses pengambilan informasi status referensi dengan menggunakan produk yang menyerupai namun dalam klasifikasi yang paling rentan dan beresiko tinggi.

(2) Proses inkubasi
Lakukan proses analisis terhadap kandungan mikrobiologi pada produk akhir pada saat output produk, kemudian lakukan penyimpanan dan dalam selang waktu tertentu untuk kemudian dilakukan analisis. Lakukan proses perhitungan dengan menggunakan tabulasi khusus yang digunakan dalam proses pengukuran shelf life.

Mengingat pentingnya aspek shelf life dalam produk ini, menjadi sangat penting untuk jenis produk perikanan beku memastikan bahwa fungsi penetapan shelf life dijalankan sesuai dengan standar persyaratan produk yang tepat. (amarylliap@gmail.com, 081293269926)

Jumat, 01 Juni 2012

Program Pelatihan BRC dalam Perusahaan

Konsep dan pemahaman terkait dengan program BRC atau British Retail Consortium adalah menggabungka konsep kesesuaian akan standar keamanan pangan HACCP dengan Sistem Manajemen Mutu. Sedikit berbeda dengan ISO 22000 yang berangkat dari konsep adaptasi penggabungan ISO 9001:2008 dan HACCP, konsep dari BRC itu sendiri sangat terkait dengan mekanisme perkembangan dari regulasi keamanan pangan itu sendiri.
Sehingga meskipun terdapat konsep manajemen namun aspek fundamental menjadi bagian yang penting dalam penyusunan program BRC dalam perusahaan. Aspek fundamental itu sendiri meliputi salah satunya kesesuaian dan ketepatan dari kondisi konstruksi bangunan yang ada dalam bagian program pengembangan BRC yang dimaksudkan tersebut.
Silabus pelatihan BRC (British Retail Consortium) versi 6 akan menginformasikan beberapa bagian.
(1) Sejarah dari perkembangan BRC
(2) Kesesuaian dan checklist persamaan BRC dengan klausul ISO 22000
(3) Pembahasan bab dari setiap ketetapan BRC, seperti:
- HACCP System
- Quality Management System
- Factory environment standard
- Product control
- Personnel Hygiene
Diharapkan dengan program pelatihan yang tepat. Implementasi Sistem BRC dalam perusahaan dapat berjalan secara optimal dan tepat sasaran. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Rabu, 30 Mei 2012

Implementasi GMP pada Jasa Food Service Tradisional

Penerapan dan aplikasi penanganan terhadap konsep dan program GMP (Good Manufacturing Practice) merupakan persyaratan penting untuk menjamin suksesnya usaha jasa food service. Dalam beberapa unit usaha seperti jasa katering dan bisnis modern, pemahaman terkait dengan GMP sudah menjadi bagian yang penting yang menjamah seluruh konsep dan pemahaman dalam arti implementasi realnya. Namun sayangnya usaha jasa bisnis tradisional seperti restoran kecil, lapak dan pedagang kaki lima yang masih mempertimbangkan unsur efisiensi dibandingkan dengan unsur kaitannya yang terkait dengan keamanan pangan.
Implementasi GMP untuk jenis jasa food service dapat dijalankan dalam bentuk konsep sederhana tanpa perlu adanya tingkat kesulitan yang tinggi. Beberapa hal yang sudah dapat menjadi perhatian dari pihak jasa food service kelas tradisional.

(1) Supply air bersih

Pastikan bahwasanya supply air bersih menjadi bagian utama dari proses pengolahan dan kebersihan. Hal ini akan menjadi kritikal karena tanpa dukungan fasilitas ini, sangat sulit rasanya suatu jasa food service memastikan keamanan pangan bagi konsumen.

(2) Proses pengolahan

Lakukan penetapan aspek pengolahan yang tepat sehingga dapat dipastikan bahwa proses pengolahan dapat menghilangkan bahaya bagi produk makanan yang disajikan kepada konsumen. Hindarkan pengolahan berkali-kali hanya karena sayang membuat sisa bahan, lakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa proses pengolahan telah dijalankan sesuai dengan standar sebelum disajikan kepada konsumen. Pastikan juga selama pengolahan, perhatian optimal dijalankan dalam memastikan food hygiene dijalankan selama proses pengolahan tersebut, misalnya kebersihan selama pengolahan mulai dari peralatan maupun personel yang melakukan proses pengolahan itu sendiri.

(3) Proses pemilihan bahan baku
Kegiatan pemilihan bahan baku ini menjadi faktor yang sangat penting dalam jasa food service selain dapat mempengaruhi rasa juga dapat memastikan bahwa aspek bahaya dari bahan baku itu sendiri telah diminimalkan dengan proses seleksi bahan baku yang tepat.
Memastikan langkah dan penetapan program GMP pada jasa food service itu sendiri baik modern maupun tradisional adalah hal yang sangat penting dan tidak dapat ditawar lagi. Lakukan pencarian informasi eksternal yang tepat agar proses implementasi program GMP pada bisnis Anda dapat dijalankan sesuai dengan persyaratan dan memberikan keuntungan bisnis yang ada dalam perusahaan itu sendiri. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Sabtu, 26 Mei 2012

Proses Penetapan Titik CCP pada Proses Surimi

Potensi alam yang ada dalam industri perikanan di Indonesia memberikan suatu bentuk tantangan pada industri perikanan untuk melakukan proses pengolahan. Beberapa teknologi yang muncul dapat memberikan suatu pemahaman yang terkait tentang cara dan bagaimana proses pengolahan dapat meningkatkan nilai jual produk. Begitu pula kepada ahli keamanan pangan dimana menjadi tantangan untuk terus menerus memperbaharui konsep keamanan pangan yang ditetapkan dalam bisnis dan industri perikanan itu sendiri.

Begitu pula dalam proses pengolahan produk Surimi. Produk surimi adalah produk yang unik, dimana tahapan prosesnya sama sekali tidak melalui proses pemanasan melainkan proses pemberian bahan pemantu proses yaitu cryoprotectant yang berfungsi untuk melakukan proses pengeblokan air dan protein dalam kadar yang tepat. Penetapan titik CCP dalam tahapan proses ini tidaklah mudah dan mengingat bahwa produk itu sendiri masuk ke dalam klasifikasi ready to cook maka harus menjadi pertimbangan penting dalam penetapan titik CCP yang ada dalam produk.

(a) Penetapan CCP pada bahan baku

Seperti produk perikanan lainnya, dalam proses penanganan bahan baku harus diwaspadai terhadap resiko cemaran mikrobiologi, parasit dan kimia. Meksipun kita mengetahui bahwa konsumen masih melakukan proses pengolahan terhadap produk adalah penting bagi pengolah untuk melakukan proses seleksi terhadap bahan baku yang diterima kahususnya terkait dengan cemaran kimia, seperti kita ketahui bahwa cemaran kimia tidak akan hilang dalam proses aplikasi pengolahan lanjutan.

(b) Proses penetapan aplikasi pendeteksian cemaran fisik

Salah satu proses yang penting yang dijalankan dalam pembuatan surimi adalah dengan melakukan proses pelumatan daging ikan secara mekanis yang mana dalam tahapan ini cukup berperan aspek mekanis yang memberikan resiko adanya cemaran logam ke dalam produk. Identifikasi kebutuhan akan adanya metal detector adalah proses penting untuk memastikan produk aman bagi konsumen.
Kedua hal ini harus diperhatikan sebagai bagian penting dalam penetapan titik CCP dalam proses surimi. Lakukan pencarian referensi eksternal yang tepat bagi industri perikanan Anda untuk memastikan tahapan validasi HACCP berjalan sesuai dengan standar persyaratan yang ada. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Aplikasi Keamanan Pangan pada Produk Ready to Eat dalam Industri Perikanan

Dalam proses apliasi pengembangan produk perikanan dengan kapasitas pengembangan value added, hal yang paling penting bagaimana sistem manajemen keamanan berperan dalam proses yang dimaksud. Pembuatan jenis produk ready to eat sangat menjanjikan pasar yang luas dengan nilai jual yang lebih tinggi. Konsep sistem manajemen keamanan pangan yang dijalankan pun bukanlah suatu konsep sederhana yang seperi kita lakukan untuk jenis produk ready to cook, yang mana proses konsumsi harus melewati proses pengolahan terlebih dahulu.

Beberapa tahapan aplikasi keamanan pangan yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

(a) Kualitas bahan baku

Penetapan kualitas bahan baku yang digunakan untuk proses produksi. Dimana penetapan bahan baku harus diperiksa secara tepat agar kualitas sesuai dengan kualitas yang direferensikan baik untuk sisi keamanan pangan maupun kualitas proses di lapangan. Beberapa jenis produk ready to eat harus melewati proses dengan kapasitas yang cukup ekstrem seperti pemanasan secara tiba-tiba (thermal shock) ataupun dengan mengemas dalam larutan brine atau saus tertentu yang dalam kondisi tertentu akan mengganggu ras asli bahan baku yang dimaksud.

(b) Spesifikasi proses pengolahan

Penetapan karakteristik pengolahan harus diperhatikan secara seksama. Pastikan adanya proses validasi keamanan pangan yang tepat untuk memastikan bahwa proses pengolahan tersebut dapat menjadi langkah akhir yang tepat sebelum produk tersebut dikonsumsi oleh konsumen. Fungsi pengendalian menjadi bagian penting yang harus dipastikan termonitor.

(c) Tahapan pengemasan

Menjalankan proses pengemasan secara tepat. Lakukan seleksi jenis pengemasan, pilih jenis pengemas yang memiliki resiko paling rendah selama proses distribusi. Lakukan pemantauan secara tepat terhadap aplikasi sistem pengemasan di lapangan.

(d) Proses distribusi

Pastikan distributor yang melakukan proses pengiriman dan distribusi barang memahami karakteristik barang, termasuk tata cara penanganan temperatur, penyimpanan dan penjelasan terhadap konsumen. Adalah menjadi tanggung jawab produsen untuk membuat label produk yang sesuai dengan peraturan keamanan pangan yang dimaksud.
Proses jaminan keamanan pangan harus menjadi prioritas utama bagi pelaku bisnis untuk menghasilkan produk ini. Lakukan pencarian referensi eksternal yang tepat untuk memastikan bahwa bisnis ini dapat dikelola secara cermat dan aman untuk konsumen. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Sabtu, 19 Mei 2012

Implementasi ISO 22000: Penetapan Sasaran Manajemen Keamanan Pangan dalam Industri Pangan/ Perikanan

Dalam konsep penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan ISO 22000, penetapan sasaran keamanan pangan adalah hal penting yang harus ditetapakan oleh pelaku industri pangan tersebut. Bagaimana dalam suatu konsep implementasi sistem, sasaran yang ada harus terpetakan dan diinformasikan ke seluruh unit kerja terkait untuk dipastikan bahwa ada suatu target yang akan dituju dalam implementasi sistem.
Lalu bagaimana cara dan tahapan yang ditetapkan oleh manajemen perusahaan terkait dengan sistem pengelolaan sasaran keamanan pangan yang ada dalam industrinya. Hal yang pasti dalam proses penetapa sasaran keamanan pangan, perusahaan harus memastikan bahwa penetapan sasaran harus disesuaikan dengan rantai bisnis perusahaan dan penetapan kepatuhan yang terkait dengan kepatuhan peraturan keamanan pangan (Klausul 5.2).
Proses penetapan target dan sasaran dilakukan dengan melalui tahapan sebagai berikut:

(1) Penetapan Kebijakan Keamanan Pangan

Penyusunan Kebijakan Keamanan Pangan adalah hal WAJIB yang harus ditetapkan oleh pelaku bisnis. Penetapan kebijakan diterbitkan untul level organisasi yang kemudian didetailkan menjadi sasaran keamanan pangan perusahaan.

(2) Penetapan Sasaran Keamanan Pangan Perusahaan

Menetapkan sasaran keamanan pangan perusahaan yang hendak dicapai oleh perusahaan, termasuk di dalamnya adalah menetapkan detail tahapan dan target kerja yang hendak dicapai. Tata cara pencapaian juga harus ditetapkan termasuk di dalamnya adalah penetapan program yang akan dijalankan.
(3) Penetapan Sasaran per Unit Kerja

Menetapkan sasaran keamanan pangan pada setiap unit kerja yang ada dalam perusahaan untuk memastikan bahwa standar keamanan pangan tercapai. Dibuat dengan mengkombinasikan aspek kualitas sebagai pendamping output produktivitas selain keamanan pangan itu sendiri.
Proses dan perkembangan yang berhubungan dengan Sistem Manajemen keamanan Pangan adalah implementasi yang membutuhkan dukungan seluruh pihak dari organisasi, sehingga tidak ada salahnya apabila menetapkan konsep sasaran keamanan pangan yang detail sampai pada unit kerja operasional di dalam perusahaan itu sendiri. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Minggu, 13 Mei 2012

3 Kegagalan Industri Pangan dalam Mengelola Sanitasi

Banyak perusahaan dalam industri pangan mengalami kesulitan dalam melakukan proses aplikasi pengembangan sanitasi dalam program GMP (Good Manufacturing Practice) yang dijalankan dalam perusahaan. Hal ini banyak disebabkan oleh ketidaktahuan perusahaan itu sendiri dalam melakukan proses pengelolaan dan penanganan sanitasi yang tidak tepat, seperti:

1) Ketidakmampuan dalam mengidentifikasi limbah

 Banyak perusahaan mengalami kesulitan dalam melakukan proses identifikasi terhadap limbah yang ada dalam perusahaan itu sendiri. Justru proses awal yang dijalankan dalam program sanitasi adalah melakukan proses identifikasi terkait dengan limbah yang dihasilkan. Proses analisis awal inilah yang kemudian akan menghasilkan penetapan metode dan tata cara proses operasional sanitasi dan penanganan limbah yang dijalankan di lapangan.

2) Kurangnya Perencanaan

 Banyak perusahaan (industri pangan/ perikanan) yang gagal dalam menjalankan dan mengelola sanitasi akibat kesalahan dalam penetapan perencanaan yang dijalankan oleh industri itu sendiri. Kurangnya penempatan dan alokasi sumber daya, baik manusia maupun material dan infrastruktur lainnya dapat menyebabkan proses penanganan yang terkait dengan program sanitasi menjadi berjalan tidak dengan hasil maksimal.
3) Tidak ada Sistem yang Memadai
Program sanitasi dan kebersihan bukanlah suatu proses pembersihan kotoran dalam arti kata proses yang dilakukan tidak terdapat sistem yang berkaitan dengan proses evaluasi untuk mendeteksi ketidaksesuaian masalah sanitasi yang ada. Dimana pelaku proses tidak memastikan adanya suatu konsep evaluasi yang tepat dalam proses implementasi industri pangan terkait dengan aspek sanitasi yang ada.
Untuk lebih mengefektifkan program sanitasi di perusahaan Anda, ada baiknya melakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk memastikan proses pengelolaan sanitasi dijalankan sesai dengan standar persyaratan yang tepat. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Personnel Hygiene untuk Industri Perikanan

Dalam industri perikanan, pemasalahan personnel hygiene adalah nilai yang penting untuk diperhatikan. Mengingat bahwa karakter produk perikanan memiliki potensi kerusakan yang sangat tinggi. Tentunya tidak dapat dibayangkan apabila personnel hygiene tidak dapat dioptimalkan untuk dikendalikan secara tepat, maka potensi kerusakan produk dapat muncul dengan begitu mudahnya.
Lalu bagaimana melakukan proses pengendalian personnel hygiene pada internal perusahaan.

(1) Melakukan proses health screening

Kegiatan health screening adalah suatu program dimana untuk melakukan proses pemeriksaan status kesehatan dari karyawan khususnya pada karyawan yang diterima dan direkruit untuk kebutuhan proses yang mana dijalankan kontak langsung dengan produk pangan. Kegiatan health screening ini harus dapat dipastikan dijalankan sesuai dengan periode tertentu dengan parameter pemeriksaan kesehatan, khususnya untuk TBC, Hepatitis A dan B, Thypus serta penyakit yang dapat berpotensi singgah ke dalam produk pangan.

(2) Program sanitasi personel

Personel yang bekerja di dalam area produksi, adalah pembawa kontaminasi yang cukup tinggi. Selain karena kontak secara terus-menerus dengan produk pangan, dalam selang waktu yang cukup lama produk pangan yang tanpa sengaja ataupun tidak yang berada di personel tersebut dapat menyebabkan adanya kontaminasi silang ke produk yang diproses. Sehingga dalam selang periode tertentu sangat penting bagi personel yang bekerja untuk melakukan proses sanitasi ulang, seperti dengan melakukan proses encucian tangan atau melakukan proses pencucian apron kerja.
Proses dan program personnel hygiene adalah suatu bentuk tahapan operasional yang tidak boleh sama sekali diabaikan. Pastikan bahwa semua kegiatan dan sistem pendukung Personnel Hygiene dipastikan untuk dapat dijalankan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Sabtu, 12 Mei 2012

Pelatihan Management Representative ISO 22000:2005

Apakah posisi Anda saat ini adalah Food Safety Team Leader dalam perusahaan? Adalah menjadi suatu hal yang sangat penting bagi individu yang ditunjuk untuk dapat memahami manfaat dari penerapan dan implementasi sistem manajemen keamanan pangan dalam konsep ISO 22000. Pelatihan ini bertujuan untuk dapat mengembangkan dan mengoptimalkan fungsi dari individu itu sendiri sebagai koordinator dari pimpinan penerapan Sistem ISO 22000.
Peserta pelatihan selain dapat diikuti oleh individu yang berada dalam posisi MR (Management Representative) itu sendiri juga dapat diikuti oleh peserta yang berkeinginan untuk memiliki kompetensi sebagai Management Representative dalam perusahaan.
Adapun tujuan dari pelatihan ini adalah untuk menciptakan Management Representative yang profesional dan efektif berkaitan dengan implementasi Sistem Jaminan Keamanan Pangan. Program pelatihan dijalankan dalam waktu dua hari dengan penjabaran detail pelatihan adalah sebagai berikut:

(1) Pemahaman mengenai HACCP dan GMP
(2) Pemahaman konsep dan standar persyaratan ISO 22000
(3) Pemahaman terhadap teknik internal audit ISO 22000
(4) Pemahaman terhadap penerapan dan implementasi fungsi Management Representative

Menjadi MR yang profesional selain akan membantu mengembangkan karir dari diri individu itu sendiri juga dapat mengembangkan fungsi strategis manajemen dalam perusahaan. Khususnya dalam penerapan ISO 22000 dimana konsep strategis yang diterapkan bersifat sangat kritis. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Selasa, 08 Mei 2012

Desain SOP untuk Industri Pangan

Apakah Anda berasal dari perusahaan pangan? Dalam setiap kesuluruhan perusahaan, baik itu industri pangan maupun bukan, kebutuhan adanya sistem merupakan hal yang penting dalam proses pengembangan perusahaan. Khususnya dalam industri pangan, selain kebutuhan dari regulasi ataupun peraturan, perusahaan pangan juga harus melihat bahwa penyusunan SOP merupakan langkah strategis penting untuk dapat mengoptimalkan pengembangan peranan perusahaan.
Lalu, langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan untuk melakukan proses pendesainan SOP dalam perusahaan.

(1) Penyusunan material untuk dokumentasi keamanan pangan

Kebutuhan akan Sistem Jaminan Keamanan Pangan merupakan suatu bentuk dan bagian yang tepat untuk proses pemastian kepatuhan terhadap regulasi. Bagaimana proses pengembangan dan optimalisasi sistem dokumen dipastikan sesuai dengan standar persyaratan yang telah ditetapkan dalam perusahaan. SOP yang penting dan yang termuat ke dalam bab ini adalah program pengembangan sanitasi, program HACCP, status pengembangan dan implementasi GMP.

(2) Penyusunan sistem pengendalian kualitas

Bagaimana perusahaan pangan harus menyusun dokumen yang terkait dengan aspek pengendalian kualitas. Seperti proses pendetailan fungsi QC, fungsi gudang serta fungsi operasional lainnya yang berkaitan untuk memastikan adanya konsistensi kebutuhan pengendalian kualitas.

(3) Penyusunan sistem strategis

Dalam proses pembuatan sistem ini, harus dipastikan bahwa manajemen memastikan bahwa pengelolaan strategis adalah hal penting yang perlu untuk ditetapkan sistem operasionalnya, seperti sistem HR ataupun sistem manajemen terkait lainnya.
Demikian status informasi untuk pengembangan desain SOP dalam industri pangan, terkait dengan penanganan status dan pengelolaan standar persyaratan yang ditetapkan oleh perusahaan, pastikan adanya referensi eksternal yang tepat untuk memastikan adanya penyusunan SOP yang tepat dalam perusahaan Anda. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Senin, 07 Mei 2012

Penyusunan Dokumentasi HACCP

Ketika akan melakukan proses implementasi terhadap Sistem ISO 22000 ataupun Sistem Manajemen Keamanan Pangan lainnya, lakukan proses penetapan sistem manajemen dokumentasi HACCP. Penerapan HACCP itu sendiri bagi beberapa perusahaan adalah pekerjaan yang sulit dan membutuhkan waktu serta pengembangan yang tepat untuk proses penyusunannya.

Berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh perusahaan dalam melakukan proses penyusunan dokumen yang dibutuhkan dalam proses penyusunan sistem HACCP.

1. Proses penyusunan dokumentasi SSOP (Standard Sanitation Operational Procedure)

Dokumen ini terdiri atas tata cara dan metode yang dikembangkan untuk melakukan proses pendesainan terhadap konsep sanitasi yang dijalankan. Termasuk di dalamnya adalah prosedur yang mengatur kegiatan sanitasi secara umum yang kemudian dibarengi dengan detail instruksi kerja yang ditetapkan dalam program sanitasi serta pengembangan dokumen sanitasi yang dimaksud ke dalam bentuk format checklist.

2. Proses penyusunan dokumen manual HACCP

Dokumen manual adalah pedoman yang digunakan oleh pihak penyusun untuk melakukan proses identifikasi bahaya, mengkategorikan bahaya serta penetapan bahaya dalam pohon keputusan CCP.

3. Dokumentasi pengendalian batas kritis

Dokumen berbentuk prosedur yang memuat tahapan yang dilakukan untuk mengendalikan batas kritis yang kemudian dilengkapi dengan form tata cara tahapan batas kritis tersebut terpantau.

4. Dokumentasi verifikasi HACCP

Dokumen ini merupakan bagian penting dalam pengembangan sistem HACCP, yang termasuk di dalam dokumen ini adalah dokumen audit (internal dan eksternal), laporan hasil pengujian produk, laporan keluhan pelanggan, serta laporan lainnya yang dibutuhkan untuk mendukung proses verifikasi HACCP.
Program penyusunan ini menjadi suatu bentuk nilai penting yang menjadi bagian dalam proses pengembangan dan implementasi HACCP dalam perusahaan. Lakukan proses referensi eksternal yang tepat dalam proses penyusunan dokumen HACCP . (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Sabtu, 05 Mei 2012

Sistem Traceability dalam Jasa Katering/ Restoran

Salah satu hal yang terpenting dalam proses pengembangan implementasi HACCP dan Sistem Manajemen Keamanan Pangan adalah proses penetapan sistem traceability yang diterapkan sebagai kebutuhan dalam aplikasi proses produksi pangan untuk bisnis dan bidang jasa boga atau katering. Lalu bagaimana cara yang paling tepat yang apat dijalankan untuk memberikan identifikasi pada produk yang menjadi output jasa restoran dan katering.

Hal yang perlu diperhatikan untuk jasa restoran dan katering adalah konsep bahwa produk itu harus dijalankan dengan melakukan proses penyajian satu kali untuk kemudian dilakukan proses pembuangan produk yang disajikan tersebut.

(1) Identifikasi bahan baku

Lakukan proses identifikasi terhadap bahan baku secara tepat sehingga dalam proses penyimpanan dapat dipastikan sistem FIFO (First In First Out) dapat berjalan dengan baik dan secara tepat. Selain itu, sebaiknya pelajari karakteristik bahan dan tata cara penyimpanan. Untuk bahan baku yang merupakan output dari suatu proses industri, harus dapat dipastikan bahwa bahan baku yang ditetapkan itu menjadi tersebut terkendalikan batasan masa berlakunya. Lakukan proses identifikasi dengan memberikan tanggal kedatangan barang serta kode / unit masuknya bahan baku tersebut.

(2) Tahapan Proses

Berikan identifikasi yang mengaitkan antara tahapan proses yang ditetapkan tersebut dengan tahapan proses yang dijalankan dalam kegiatan operasional proses yang telah ditetapkan. Buat dan pastikan bahwa dalam tahapan tersebut tersedia identifikasi pelaku proses dan catatan tahapan proses yang termuat.

(3) Penyajian Produk

Buat catatan informasi terkait dengan penyajian khusus, apabila proses penyajian tersebut memang disajikan secara khusus kepada konsumen tertentu. Apabila bersifat prasmanan maka lakukan proses pemberian identifikasi batasan waktu penyajian untuk menjaga kualitas dan keamanan produk terjaga.
Terapkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang tepat dalam bisnis makanan Anda. Carilah referensi eksternal yang tepat untuk mendukung bisnis Anda berjalan sesuai degan standar persyaratan yang ada. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Desain Program Sanitasi untuk Bisnis Restoran

Untuk lebih mengoptimalkan konsep keamanan pangan dalam bidang usaha jasa boga (food service), adalah hal mutlak untuk melakukan proses pengembangan Standard Operating Procedure yang berkaitan dengan program sanitasi. Langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan oleh suatu industri dalam bidang restoran untuk lebih mengoptimalkan kapasitas dalam program sanitasi.
Langkah Pertama: Penyusunan Metode Sanitasi

Lakukan proses penetapan Standard Operating Procedure yang berkaitan dengan aplikasi sanitasi yang akan dijalankan dalam bisnis restoran tersebut. Metode yang dilakukan ini sebelum dijalankan harus melalui tahapan proses asessement. Assessment yang dilakukan adalah untuk melakukan proses identifikasi terhadap jenis limbah atau kotoran yang ada dalam proses, jenis material peralatan dan bangunan serta resiko pangan yang ada.
Tetapkan tahapan proses sanitasi yang dijalankan, jangan lupa lakukan jenis pengenalan dan identifikasi terhadap material sanitizer yang tepat untuk proses aplikasi sanitasi yang dijalankan tersebut.

Langkah Kedua: Penyusunan Prosedur dan catatan terdokumentasi

Buatlah mekanisme panduan terhada kegiatan sanitasi yang dijalakan tersebut. Selain menyusun prosedur lakukan proses pembuatan catatan-catatan yang terkait dengan tahapan proses pengembangan sanitasi yang dijalankan dalam perusahaan. Lakukan proses pengembangan jadwal yang tepat terhadap kegiatan dan program sanitasi.
Langkah Ketiga: Pelatihan Personel

Lakukan proses pemberian program pelatihan yang tepat pada karyawan. Pelatihan harus dijalankan seiring dengan praktek yang tepat agar kegiatan sanitasi dapat diaplikasikan untuk memberikan nilai maksimal dalam proses sanitasi yang tepat.

Langkah Keempat: proses validasi

Hal ini adalah langkah yang terpenting, lakukan proses validasi untuk memastikan bahwa program sanitasi yang ada telah dijalankan secara tepat. Program validasi dapat dilakukan dengan menjalankan program audit, proses pemeriksaan terhadap uji swab hasil sanitasi serta kegiatan maupun aspek lainnya yang berkaitan dengan program validasi yang dikembangkan dalam manajemen bisnis restoran yang dimaksudkan tersebut.
Dalam menjalankan empat tahap proses aplikasi program sanitasi ini, sebaiknya manajemen memastikan adanya komitmen yang kuat untuk penyediaan sumber daya yang memadai. Lakukan analisis referensi eksternal yang tepat dalam menyusun desain program sanitasi tersebut. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)

Jumat, 20 April 2012

Sulitkah Industri Pangan Kecil Menerapkan ISO 22000?

Apakah Anda memiliki perusahaan dengan ukuran kelas kecil dan menengah serta pada saat ini sangat tertarik untuk melakukan program sertifikasi ISO 22000 ? Namun Anda tidak memiliki rasa percaya diri yang memadai untuk menerapkan sistem tersebut. Jangan khawatir, proses aplikasi program sertifikasi ISO 22000 dapat dilakukan untuk semua jenis industri pangan, termasuk perikanan skala kecil. Bagaimana langkah yang harus dilakukan oleh perusahaan kecil dalam menerapkan ISO 22000?

Langkah Pertama: Lakukan Proses Pengkajian terhadap Kesesuaian Infrastruktur

Bagi beberapa perusahaan kecil, untuk memenuhi persyaratan yang distandarkan dalam penerapan Standar GMP yang tepat memang terlihat mahal, namun harus diamati dengan melihat nilai yang dikeluarkan oleh perusahaan adalah suatu bentuk investasi jangka panjang yang sangat tepat untuk dioptimalkan dalam kaitan pengembangan dan strategi pasar perusahaan.

Langkah Kedua: Melakukan Pelatihan Karyawan

Lakukan proses pelatihan terhadap karyawan dan memastikan bahwa pelatihan yang dijalankan sesuai dengan standar persyaratan yang telah ditetapkan oleh perusahaan itu sendiri. Pastikan bahwa seluruh karyawan mendapatkan pelatihan yang tepat dan dijalankan oleh provider yang baik sehingga aspek kompetensi dari karyawan tersebut terpenuhi.

Langkah Ketiga: Melakukan Proses penyusunan dokumen
Sedikit berbeda dengan perusahaan besar, proses penyusunan dokumen pada perusahaan kecil harus memperhatikan tingkat kepraktisan dan kemudahan dalam menjalankan implementasinya. Dalam perusahaan kecil, kadangkala proses pekerjaan dijalankan secara multitask, artinya satu indiidu orang menjalankan banyak pekerjaan. Pastikan juga jangan menyebabkan perusahaan terjebak dalam kondisi banyaknya pekerjaan dokumentasi.
Langkah Keempat: Kegiatna Internal Audit
Harus dapat dipastikan bahwa kegiatan internal audit dapat dijalankan sesuai dengan persyaratan. Mengingat kapasitas perusahaan yang masih sederhana, justru dapat memberikan nilai positif dalam melakukan kegiatan audit internal yang detail serta optimal.
Demikian empat langkah yang dapat dilakukan oleh perusahaan skala industri pangan kecil untuk mengaplikasikan ISO 22000, pilih provider badan sertifikasi yang tepat untuk dapat memastikan bahwa penerapan program ISO 22000 dapat dijalankan secara optimal. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Rabu, 18 April 2012

Keuntungan Penerapan Sistem ISO 22000


Banyak perusahaan di bidang industri makanan, masih melihat bahwa penerapan sertifikasi ISO 22000 dalam perusahaan adalah suatu investasi mahal yang tidak akan berpengaruh langsung terhadap sistem operasional yang ada dalam perusahaan. Apakah pendapat itu benar? Sebenarnya banyak hal yang dapat menjadi pertimbangan dalam penerapan Sistem ISO 22000 dan dapat memberi keuntungan terhadap perusahaan dibandingkan dengan hanya melakukan proses penerapan HACCP.
(1) Adanya Evaluasi terhadap aplikasi sistem HACCP dalam perusahaan
ISO 22000 seperti dalam penerapan Sistem ISO lainnya menggunakan konsep PDCA (Plan Do Check & Action) sehingga dimana semua perencanaan yang ada dalam perencanaan HACCP termonitor dan ditangani dengan tepat. Setiap ketidaksesuaian yang muncul dalam analisis bahaya tersebut akan ditetapkan tindakan perbaikan dan pencegahannya sehingga tidak akan menyulitkan perusahaan dalam proses implementasi sistem yang ada.
(2) Pemenuhan undang-undang dan persyaratan ataupun regulasi
Salah satu hal yang penting adalah dalam penerapan Sistem ISO 22000 perusahaan berkomitmen terhadap kesesuaian peraturan dan regulasi yang ada. Lalu apa keuntungannya? Secara investasi jangka pendek mungkin mengeluarkan biaya tinggi, namun dalam investasi jangka panjang akan sangat tepat karena akan menghilangkan resiko ancaman dari ketidakpuasan konsumen ataupun pemerintah terhadap kualitas dan keamanan pangan produk.
(3) Sertifikat sebagai komitmen bisnis
Sertifikasi ISO 22000 merupakan suatu bentuk perwujudan fisik dari komitmen industri pangan yang benar-benar sangat dibutuhkan oleh perusahaan. Dimana komitmen ini memberikan nilai positif dalam konsep kompetisi dengan bisnis sejenis.
(4) Adanya komunikasi dan pengembangan kompetensi
Industri pangan tidak hanya didukung oleh sumber daya manusia yang berada dalam konsep internal perusahaan saja, namun juga melibatkan pemasok dan distributor. Adanya program sertifikasi ISO 22000 memberikan bukti nyata terhadap konsep komunikasi dan pengembangan kompetensi sumber daya manusia yang diaplikasikan dan dikembangkan di dalam perusahaan.Melihat nilai keuntungan ini, ada baiknya dari pengusaha maupun pihak konsumen mengubah persepsi positif tidak hanya melihat dari aspek jangka pendeknya dari penerapan sistem. Strategi serta pengembangan bisnis yang tepat dapat mengoptimalkan arti dan konsep bisnis yang dimiliki dalam industri pangan, termasuk komponen pendukungnya. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Aplikasi Pest Control dalam Industri Pangan


Banyak perusahaan dan industri makanan melihat bahwa pest control adalah suatu bentuk pelengkap untuk memastikan bahwa industri pangan tersebut memenuhi persyaratan Sistem ISO 22000 ataupun HACCP atau bahkan hanya untuk menembus audit eksternal saja. Padahal banyak ditemukan dampak negatif yang terkait dengan ketidaksesuaian aplikasi pest control yang apabila tidak dilakukan secara cermat dapat beresiko terhadap keamanan pangan.Dampak negatif dari proses aplikasi pest control yang tidak tepat tersebut adalah:
1) Resistensi dari hama
Proses pemusnahan pest ataupun hama dengan proses dan metodologi yang tidak tepat dapat menyebabkan hama menjadi resisten dan lebih sulit untuk dimusnahkan. Dalam beberapa hal, perusahaan mengalami kerugian karena akan melakukan proses investasi yang cukup tinggi terkait dengan proses penanganan aplikasi pest control yang dijalankan dalam perusahaan.
2) Pemusnahan hama yang tidak tepat
Proses aplikasi pest control memiliki tingkatan dalam proses penanganannya. Banyak perusahaan pest control lebih mengutamakan bahan kimia yang sebenarnya menjadi suatu bentuk solusi sapu jagad yang dapat memnyebabkan status dan kondisi pemusnahan hama yang ada dalam perusahaan menjadi suatu bentuk penanganan jalan pintas yang tidak tepat bagi proses aplikasi pengembangan industri pangan. Dalam industri pangan sebaiknya dilakukan proses evaluasi terhadap aplikasi pest control yang sangat tepat dan sesuai dengan kondisi yang ada di lapanan sehingga akan sangat membantuk perusahaan dalam proses aplikasi pest control itu nantinya.
Ketidaktepatan pemusnahan hama juga dapat menjadi suatu nilai negatif karena bisa saja pemusnahan hama yang dilakukan justru memunculkan adanya hama lainnya yang dapat menyebabkan perusahaan mengalami permasalahan dalam proses operasional yang dijalankan.Lalu bagaimana cara melakukan proses aplikasi pest control yang tepat.
1) Seleksi Perusahaan Pest Control
Lakukan proses dan evaluasi dari pemasok yang menjalankan kegiatan pest control tersebut. Salah satu nilai penting yang harus dijalankan dalam proses seleksi adalah lakukan proses pencarian perusahaan pest control yang penetapan aplikasinya dilakukan dengan melalukan proses survey dan penanganan yang tepat sesuai dengan industri dan kondisi operasional proses perusahaan Anda. Pastikan perusahaan tersebut memiliki tim teknisi yang kuat dan R&D yang tepat untuk melakukan proses assessment di dalam perusahaan Anda sebelum menjalankan aplikasi pest control. Sehingga dengan proses pengembangan dan riset yang tepat inilah optimalisasi dari program pest control di perusahaan Anda dapat berkembang secara optimal.
2) Proses pengembangan dan operasional sanitasi
Bagaimana cara melakukan proses penetapan dan proses operasional sanitasi yang tepat, itu adalah kunci utama dalam proses pengembangan operasional dari program pest control. Sanitasi yang kurang memadai dapat meningkatkan potensi perkembangan hama dan memunculkan daya tarik kedatangan hama. Lakukan proses integrasi yang tepat antara aplikasi sanitasi dengan proses operasional pest control yang dijalankan.
3) Program Pelatihan
Lakukan proses pengembangan kompetensi sumber daya manusia dalam perusahaan Anda dengan aplikasi dan pengembangan kompetensi terhadap pengendalian hama. Meskipun proses pengendalian hama di perusahaan Anda dilakukan oleh perusahaan lain, bukan berarti bahwa karyawan dalam perusahaan tidak memahami secara tepat proses penanganan dan aplikasi dari kegiatan dan program pest control. Tujuan dari program pelatihan ini adalah meningkatkan nilai keterlibatan karyawan dalam program pest control serta untuk memiliki kapasitas yang tepat dalam proses penanganan dan verifikasi terhadap program pengendalian hama dalam perusahaan.Segeralah perusahaan Anda mulai memperbaiki konsep pengembangan program pengendalian hama yang tepat. Dalam industri pangan, kontaminasi dari serangga dan hama lainnya masih menjadi momok yang dapat menjatuhkan kredibilitas bisnis Anda. Lakukan proses konsultasi dan pencarian referensi yang tepat terkait dengan pest control yang ada dalam perusahaan Anda. (tri_hartono2002@yahoo.com, 081335632084)

Kamis, 22 Maret 2012

Aplikasi Pest Control dalam Industri Pangan


Banyak perusahaan dan industri makanan melihat bahwa pest control adalah suatu bentuk pelengkap untuk memastikan bahwa industri pangan tersebut memenuhi persyaratan Sistem ISO 22000 ataupun HACCP atau bahkan hanya untuk menembus audit eksternal saja. Padahal banyak ditemukan dampak negatif yang terkait dengan ketidaksesuaian aplikasi pest control yang apabila tidak dilakukan secara cermat dapat beresiko terhadap keamanan pangan.Dampak negatif dari proses aplikasi pest control yang tidak tepat tersebut adalah:1) Resistensi dari hamaProses pemusnahan pest ataupun hama dengan proses dan metodologi yang tidak tepat dapat menyebabkan hama menjadi resisten dan lebih sulit untuk dimusnahkan. Dalam beberapa hal, perusahaan mengalami kerugian karena akan melakukan proses investasi yang cukup tinggi terkait dengan proses penanganan aplikasi pest control yang dijalankan dalam perusahaan.2) Pemusnahan hama yang tidak tepatProses aplikasi pest control memiliki tingkatan dalam proses penanganannya. Banyak perusahaan pest control lebih mengutamakan bahan kimia yang sebenarnya menjadi suatu bentuk solusi sapu jagad yang dapat memnyebabkan status dan kondisi pemusnahan hama yang ada dalam perusahaan menjadi suatu bentuk penanganan jalan pintas yang tidak tepat bagi proses aplikasi pengembangan industri pangan. Dalam industri pangan sebaiknya dilakukan proses evaluasi terhadap aplikasi pest control yang sangat tepat dan sesuai dengan kondisi yang ada di lapanan sehingga akan sangat membantuk perusahaan dalam proses aplikasi pest control itu nantinya.Ketidaktepatan pemusnahan hama juga dapat menjadi suatu nilai negatif karena bisa saja pemusnahan hama yang dilakukan justru memunculkan adanya hama lainnya yang dapat menyebabkan perusahaan mengalami permasalahan dalam proses operasional yang dijalankan.Lalu bagaimana cara melakukan proses aplikasi pest control yang tepat.1) Seleksi Perusahaan Pest ControlLakukan proses dan evaluasi dari pemasok yang menjalankan kegiatan pest control tersebut. Salah satu nilai penting yang harus dijalankan dalam proses seleksi adalah lakukan proses pencarian perusahaan pest control yang penetapan aplikasinya dilakukan dengan melalukan proses survey dan penanganan yang tepat sesuai dengan industri dan kondisi operasional proses perusahaan Anda. Pastikan perusahaan tersebut memiliki tim teknisi yang kuat dan R&D yang tepat untuk melakukan proses assessment di dalam perusahaan Anda sebelum menjalankan aplikasi pest control. Sehingga dengan proses pengembangan dan riset yang tepat inilah optimalisasi dari program pest control di perusahaan Anda dapat berkembang secara optimal.2) Proses pengembangan dan operasional sanitasiBagaimana cara melakukan proses penetapan dan proses operasional sanitasi yang tepat, itu adalah kunci utama dalam proses pengembangan operasional dari program pest control. Sanitasi yang kurang memadai dapat meningkatkan potensi perkembangan hama dan memunculkan daya tarik kedatangan hama. Lakukan proses integrasi yang tepat antara aplikasi sanitasi dengan proses operasional pest control yang dijalankan.3) Program PelatihanLakukan proses pengembangan kompetensi sumber daya manusia dalam perusahaan Anda dengan aplikasi dan pengembangan kompetensi terhadap pengendalian hama. Meskipun proses pengendalian hama di perusahaan Anda dilakukan oleh perusahaan lain, bukan berarti bahwa karyawan dalam perusahaan tidak memahami secara tepat proses penanganan dan aplikasi dari kegiatan dan program pest control. Tujuan dari program pelatihan ini adalah meningkatkan nilai keterlibatan karyawan dalam program pest control serta untuk memiliki kapasitas yang tepat dalam proses penanganan dan verifikasi terhadap program pengendalian hama dalam perusahaan.Segeralah perusahaan Anda mulai memperbaiki konsep pengembangan program pengendalian hama yang tepat. Dalam industri pangan, kontaminasi dari serangga dan hama lainnya masih menjadi momok yang dapat menjatuhkan kredibilitas bisnis Anda. Lakukan proses konsultasi dan pencarian referensi yang tepat terkait dengan pest control yang ada dalam perusahaan Anda. (tri_hartono2002@yahoo.com, 081335632084)

Sabtu, 17 Maret 2012

Mekanisme dan Proses Operasional Pengaturan Peralatan Kerja dalam Industri Pangan/ Perikanan

Dalam suatu proses industri pengolahan pangan, teknik dan tata cara yang tepat dalam proses pengaturan peralatan kerja salah satunya adalah suatu nilai yang sangat penting untuk diperhatikan. Beberapa hal, bentuk kontaminasi pangan itu sendiri dapat juga disebabkan oleh ketidaksesuaian penggunaan peralatan kerja dalam suatu proses operasional yang dijalankan tersebut.Berikut adalah beberapa hal yang sangat perlu diperhatikan oleh pelaku industri pangan, khususnya perikanan yang mana proses penanganan dan pengolahan sangat memiliki tingkat resiko yang tinggi dalam proses operasional yang dijalankannya.1. Prosedur untuk Pengendalian PeralatanPerusahaan ataupun pelaku industri wajib untuk membuat prosedur yang ditetapkan untuk melakukan proses pengendalian terkait dengan penggunaan peralatan yang dimaksud. Isi yang termuat dalam prosedur ini harus meliputi tata cara mengidentifikasi peralatan yang ada, proses pemeriksaan sebelum dan sesudah penggunan peralatan yang digunakan termasuk kemudian adalah proses evaluasi yang terkait dengan status kesesuaian peralatan. Dalam prosedur yang dibuat harus dipastikan adanya fungsi koordinator untuk kegiatan penanganan dan pengelolaan terhadap peralatan tersebut.2. Form Inspeksi dan Checklist terkait dengan proses penggunaan peralatanDalam proses penggunaan peralatan yang digunakan, harus dapat dipastikan kegiatan inspeksi dan checklist yang ditetapkan untuk proses pengolahan perikanan. Inspeksi dan checklist yang dibuat harus dapat memastikan kesesuaian kondisi dari peralatan yang ada tersebut. Pastikan apabila peralatan dalam kondisi rusak ataupun tidak lengkap untuk tidak diperguanakan lagi. Apabila alat dalam kondisi rusak dimana terdapat patahan ataupun hilangnya komponen yang ada dalam alat tersebut maka dilakukan proses pemeriksaan ulang yang terkait dengan peralatan yang dimaksudkan tersebut.Sedangkan untuk checklist peralatan, yang harus diperhatikan selain kondisi yang terkait dengan kesesuaian status visual dari peralatan yang dimaksud juga harus memperhatikan status kebersihan peralatan yang digunakan untuk proses operasional produksi.3. Proses penangaan ketidaksesuaian peralatan yang adaSetelah melakukan proses pemeriksaan yang terkait dengan kondisi yang ada dalam status peralatan yang ada, maka dilakukan proses penetapan yang terkait dengan dengan ketidkasesuaian peralatan yang dimaksud. Dimana ketidaksesuaian peralatan tersebut kemudian dilakukan proses penanganan dan koreksi lanjutannya untuk kemudian dilakukan proses pemastian bahwa peralatan tersebut tertangani secara terpisah untuk kemudian dipastikan tidak dijalankan status peralatan yang ada tersebut.Meskipun terlihat sederhana, proses penanganan peralatan menjadi salah satu dari komponen kegiatan sanitasi yang harus dikelola secara tepat. Pastikan perusahaan ataupun pelaku industri menjalankan suatu proses operasional produksi yang dijalankan sesuai dengan standar persyaratan yang ditetapkan. Lakukan proses referensi eksternal yang tepat dalam proses penanganan status operasional yang terkait dengan status implementasi industri perikanan dalam perusahaan. (amarylliap@yahoo.com, 087884378754)

Sabtu, 18 Februari 2012

Pentingnya Melakukan Proses Pendataan Regulasi


Dalam proses perumusan terhadap proses pengelolaan sistem HACCP, proses penanganan dan pendataan regulasi adalah aspek penting yang perlu dilakukan secara rutin. Beberapa cara dapat dilakukan oleh tim perumus sistem HACCP dalam melakukan proses status pembaruan regulasi yang dimaksud.
(1) Menjadi member dari keanggotaan ahli pangan
Ada baiknya, perusahaan mengikutsertakan salah satu karyawannya, biasanya yang diikutkan adalah ketua tim keamanan pangan. Banyak manfaat yang dapat diambil dengan menjadi anggota dari suatu kelompok ahli pangan, salah satunya adalah dengan mendapatkan informasi rutin mengenai regulasi yang terkait dengan produk pangan yang dimaksud.
(2) Melakukan proses akses terhadap badan regulasi keamanan pangan
Perusahaan sebaiknya secara rutin melakukan proses pemeriksaan pembaharuan regulasi keamanan pangan, baik itu lokal maupun dalam ruang lingkup internasional. Ikuti seminar ataupun proses analisis untuk melakukan pemeriksaan terhadap pembaharuan pada sistem manajemen keamanan pangan.
(3) Melakukan akses terhadap situs social network ataupun situs resmi keamanan pangan
Ada baiknya agar pihak yang berada dalam organisasi melakukan proses analisis terhadap status pembaharuan terhadap regulasi keamanan pangan yang ada dalam perusahaan.
Setelah melakukan proses pembaruan regulasi, apa manfaat di balik regulasi tersebut. Manfaat yang terpenting yang muncul dalam proses pembaruan regulasi adalah dengan memastikan bahwa aspek keamanan pangan dapat dikendalikan secara tepat dan optimal untuk memastikan bahwa sistem yang tersedia dalam proses up dating regulasi dapat dijalankan dengan tepat sesuai dengan standar persyaratan. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Merumuskan Bahaya dalam Bahan Baku Produk


Dalam proses penerapan HACCP dalam perusahaan, banyak tim perumus HACCP lupa dalam menetapkan formulasi terhadap bahaya yang muncul dalam bahan baku produk. Padahal konsep HACCP tidak hanya terbatas dalam produk jadi, namun juga dalam bahan baku yang ada. Lalu bagaimana merumuskan bahaya dalam bahan baku produk. Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh tim perumus untuk melakukan proses identifikasi bahaya dalam produk.
(1) Identifikasi bahan baku yang ada
Lakukan proses analisis terhadap bahan baku yang digunakan. Jenis bahan baku yang bersifat single component adalah bahan baku yang terdiri atas satu jenis bahan pendukung saja, dalam proses identifikasi dan analisis terhadap bahan baku ini lakukan proses pencarian terhadap referensi yang terkait dengan aspek regulasi bahan baku yang dimaksud, misalnya dengan melihat pada SNI (Standard Nasional Indonesia) atau pada regulasi terkait lainnya. Apabila tidak tersedia lakukan proses penetapan berdasarkan regulasi yang mendekati dengan komponen bahan baku yang dimaksud. Namun apabila jenis bahan baku bersifat complex component maka lakukan proses penetapan aspek bahaya yang menganut pada material dengan komponen resiko tinggi.
(2) Asal/ sumber bahan baku
Lakukan proses pemeriksaan terhadap asal atau sumber bahan baku tersebut. Ada baiknya tim perumus HACCP melakukan proses audit ke lapangan dengan tujuan untuk melakukan proses formulasi untuk memastikan jenis bahaya yang dapat berpotensi muncul. Khusus pada produk pertanian dan perikanan, asal sumber bahan baku sangat penting untuk proses penelusuran dalam aplikasi penanganan recall dan antisipasi terhadap pencemaran yang dapat muncul dalam produk.
(3) Kelengkapan dokumentasi dan pemeriksaan
Tim perumus melakukan proses analisis terhadap bahan baku yang dijalankan, lakukan pengamatan terhadap nilai spesifikasi yang menjadi nilai resiko keamanan pangan, seperti cemaran fisik (benda asing), cemaran mikroba (khususnya patogen) serta cemaran kimia (logam berat dan pestisida). Apabila diperlukan tim perumus mengambil sampel dari material tersebut untuk kemudian dilakukan proses pemeriksaan secara rutin (reguler).
(4) Kaitan bahan baku dengan persyaratan lainnya
Untuk produk yang masuk ke dalam klasifikasi halal sangat penting bagi auditor HACCP untuk memperhatikan kelengkapan dari pemenuhan persyaratan tersebut baik dari segi dokumentasi maupun komponen keamanan pangan lainnya.
Melihat dari proses perumusan ini, menjadi sangat begitu penting bagi tim perumus HACCP untuk secara cermat melakukan proses identifikasi dan pengamatan terhadap material bahan baku selama proses perumusan. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Audit HACCP: Konsep Ulang Perumusan Sistem Manajemen Keamanan Pangan


Banyak perusahaan yang setelah melakukan proses penyusunan dokumen HACCP lupa untuk melakukan proses audit terhadap sistem HACCP yang dibentuk itu sendiri. Padahal manual HACCP yang dimiliki oleh perusahaan bukanlah harga mati yang menjadi suatu ketentuan tetap yang tidak akan mungkin berubah.
Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan perubahan terhadap manual HACCP itu sendiri:
(1) Perubahan atau penambahan jenis produk
Perubahan dalam komposisi dapat mengubah potensi bahaya yang ada dalam produk, perubahan terhadap perumusan spesifikasi produk maupun kaitan dengan regulasi produk yang menjadi referensi. Beberapa konsep pengembangan produk sebaiknya dilakukan proses pengaitan antara komposisi produk dengan manual HACCP itu sendiri.
(2) Perubahan dari bentuk dan lay out bangunan
Perubahan bentuk akan mempengaruhi alir proses, dan yang pasti dapat mengubah potensi resiko keamanan pangan yang muncul dalam proses yang ada di dalam analisis keamanan pangan yang dijalankan.
Belum lagi, pengubahan bentuk dan lay out bangunan juga dapat memberikan perubahan atau modifikasi yang ada dalam sistem GMP (Good Manufacturing Practice) dan SSOP (Standard Sanitation Operational Procedure).
(3) Perubahan proses
Perubahan terhadap proses, misalnya dalam bentuk pengubahan terhadap desain proses, mesin ataupun pengolahan maka dapat menimbulkan adanya penamahan atau faktor desain ulang terhadap sistem HACCP yang ditetapkan. Secara pasti resiko dan bahaya yang ada dapat berubah atau berpindah tempat. Tentu saja penempatan titik CCP juga dapat berubah.
Melihat dari bagaimana HACCP dapat mengalami perubahan selama proses operasional, sangatlah perlu kiranya suatu organisasi untuk melakukan proses audit HACCP sebagai bentuk proses pengkajian yang dijalankan di lapangan.
Adapun proses review yang dijalankan sebaiknya meliputi tahapan sebagai berikut:
(1) Paramater spesifikasi bahan baku
Sebagai auditor, hal yang terpenting untuk diidentifikasi adalah perumusan semua aspek resiko yang berpotensi muncul dalam bahan baku itu sendiri. Lakukan pendataan terhadap referensi legal yang terkait dengan bahan baku dimaksud, lakukan proses pengecekan silang dengan hasil analisis laboratorium terhadap bahan baku itu sendiri.
Bahan baku dengan tingkat resiko yang tinggi dan dominan dapat dilakukan proses penetapan di dalam spesifikasi barang jadi.
(2) Proses operasional GMP dan SSOP
Lakukan proses pemeriksaan terhadap kesesuaian dari implementasi sistem GMP (Good Manufacturing Practice) dan SSOP (Standard Sanitation Operational Procedure) yang ada di lapangan. Lakukan proses verifikasi terhadap hasil uji sanitasi, periksa kesesuaiannya.
Auditor HACCP dapat melakukan proses pemeriksaan terhadap kesesuaian antara prosedur yang tercatat dengan aplikasi.
(3) Proses produksi
Periksa kesesuaian dari tabel HACCP dengan proses produksi yang dijalankan, amati setiap tahapan proses untuk melakukan proses pemeriksaan terhadap potensi kontaminasi yang dapat muncul selama proses.
(4) Proses penyimpanan produk jadi dan bahan baku
Auditor harus memastikan bahwa standarisasi penyimpanan telah dijalankan sesuai dengan persyaratan, termasuk di dalamnya proses penanganan terhadap status kadaluarsa produk, proses penetapan sampel, serta proses label dan identifikasi produk.
(5) Proses analisis produk
Auditor HACCP harus memastikan personel yang melakukan proses pemeriksaan, seperti tim QC dan analis menjalankan proses analisis produk sesuai dengan SOP dan referensi standar yang telah ditetapkan. Melakukan proses pemeriksaan terhadap kesesuaian analisis dengan spesifikasi produk yang ditetapkan. Selain itu, auditor juga melakukan proses pemeriksaan terhadap status kalibrasi dari alat ukur.
(6) Proses recall dan penanganan customer complaint
Hal yang terpenting bagi auditor adalah melihat kelengkapan dari laporan kegiatan recall, serta catatan yang terkait dengan proses recall tersebut. Laporan dan tindak lanjut yang menyertainya harus diverifikasi untuk memastikan apakah proses yang dimaksud telah dijalankan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Sedangkan untuk proses penanganan complaint, hal yang terpanting untuk dicatat adalah proses tindak lanjut internal yang telah dijalankan termasuk di dalamnya adalah proses modifikasi terhadap manual HACCP.
Melihat dari proses dan tujuan pengembangan audit HACCP, dapat terlihat bahwa perumusan audit adalah hal yang sangat penting untuk dipertimbangkan dalam konsep operasional dari implementasi sistem manajemen keamanan pangan dalam suatu industri. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)