Industri pengolahan sarang walet adalah industri pangan yang potensial, khususnya untuk market luar negeri seperti China, Amerika dan Australia. Banyak pemain yang bergerak dalam industri ini, namun tidak sedikit yang belum memhami lay out yang tepat dalam proses pengolahan sarang walet.
Kerugian yang didapatkan oleh perusahaan karena kesalahan lay out adalah banyak sekali, salah satu dari kerugian tersebut adalah potensi kegagalan dari audit kelulusan registrasi veteriner, kegagalan audit HACCP serta tidak efisiennya proses yang dimiliki.
Untuk mencegah potensi kerugian tersebut, berikut ini adalah beberapa hal yang dapat diperhatikan terkait dengan proses pendesainan lay out industri pengolahan sarang walet.
(1) Memastikan Adanya Pemisahan Antara Material Bersih dan Material Kotor
Dalam desain lay out, penempatan antara material bersih dan material kotor harus terpisahkan. Material kotor adalah material yang masih tercampur dengan kontaminan fisik seperti bulu dan kotoran yang beresiko tinggi dalam mencemari material bersih. Lokasi pengolahan serta peralatan yang dipergunakan harus dipastikan terpisah antara material bersih dan material kotor.
(2) Mengatur Pergerakan Personel, Barang dan Peralatan
Lay out harus mampu memastikan bahwa pergerakan personel, barang dan peralatan tidak terjadi kontaminasi silang yang dapat menyebabkan produk menjadi tidak aman. Penetapan alir udara juga menjadi bagian yang harus diperhatikan dalam proses penetapan lay out tersebut.
(3) Penempatan Ruang Proses
Ruangan proses harus ditetapkan sesuai dengan alir proses. Mengusahakan tidak terdapat proses balik yang beresiko terjadi kontaminasi. Ketersediaan ruangan yang dipersyaratkan wajib dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan seperti ruang ganti, ruang penyimpanan kemasan serta ruangan lainnya adalah penting untuk tersedia.
Bagaimana proses penyusunan lay out di industri pengolahan sarang walet Anda? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat untuk memastikan bahwa lay out yang dimiliki sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan.(amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Selasa, 26 Mei 2020
Rabu, 20 Mei 2020
Menyusun Sistem FSSC Pada Produk Kemasan
Penetapan sistem manajemen keamanan pangan dalam produk kemasan, sedikit berbeda dengan proses penyusunan sistem FSSC pada produk pangan. Adapun untuk jenis kemasan itu sendiri, terdapat perbedaan dalam proses penyusunan sistem yang dijalankan. Terdapat penetapan kategori atas produk kemasan, yaitu produk kemasan dengan kategori high hygine dan produk kemasan dan kategori low hygiene.
Perbedaan dari penetapan sistem yang dilakukan adalah pada proses penetapan sistem PRP (Pre Requisite Program) yang dijalankan. Produk dengan kategori high hygiene memiliki proses penetapan PRP yang lebih ketat karena memiliki potensi resiko yang tinggi apabila tidak terproses dengan tepat dalam proses pengolahan pangan.
Sekilas perbedaan tersebut tidak berbeda dengan produk pangan, namun produk low hygiene memiliki konsep atas penetapan PRP disesuaikan dengan analisis resiko yang dilakukan. Penerapan atas pengelolaan keamanan pangan pada produk kemasan juga tidak luput kepada sistem identifikasi bahaya yang spesifik pada setiap tahapan proses. Perusahaan diminta untuk melakukan proses analisis atas komposisi dari material pembentuk kemasan tersebut. Ada baiknya melakukan kajian atas spesifikasi bahan dengan tepat dan efektif.
Proses pengujian yang dijalankan terhadap aspek control measure, hal ini dilakukan untuk memastikan setiap tindakan yang dilakukan dalam proses pengendalian bahaya sangat efektif untuk dapat dijalankan. Pengendalian bahaya pada pengelolaan produk kemasan, harus dijalankan sesuai dengan best practice yang tepat.
Bagaimana dengan penerapan FSSC pada produk kemasan di industri Anda? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam penyusunan FSSC pada produk kemasan yang ada dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Perbedaan dari penetapan sistem yang dilakukan adalah pada proses penetapan sistem PRP (Pre Requisite Program) yang dijalankan. Produk dengan kategori high hygiene memiliki proses penetapan PRP yang lebih ketat karena memiliki potensi resiko yang tinggi apabila tidak terproses dengan tepat dalam proses pengolahan pangan.
Sekilas perbedaan tersebut tidak berbeda dengan produk pangan, namun produk low hygiene memiliki konsep atas penetapan PRP disesuaikan dengan analisis resiko yang dilakukan. Penerapan atas pengelolaan keamanan pangan pada produk kemasan juga tidak luput kepada sistem identifikasi bahaya yang spesifik pada setiap tahapan proses. Perusahaan diminta untuk melakukan proses analisis atas komposisi dari material pembentuk kemasan tersebut. Ada baiknya melakukan kajian atas spesifikasi bahan dengan tepat dan efektif.
Proses pengujian yang dijalankan terhadap aspek control measure, hal ini dilakukan untuk memastikan setiap tindakan yang dilakukan dalam proses pengendalian bahaya sangat efektif untuk dapat dijalankan. Pengendalian bahaya pada pengelolaan produk kemasan, harus dijalankan sesuai dengan best practice yang tepat.
Bagaimana dengan penerapan FSSC pada produk kemasan di industri Anda? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam penyusunan FSSC pada produk kemasan yang ada dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Jumat, 08 Mei 2020
Mempelajari Perubahan ISO 22000 versi 2018
Tersedianya program pembaharuan dalam Sertifikasi ISO 22000 memaksa setiap perusahaan untuk melakukan proses up-grade atas Sertifikasi ISO 22000. Lalu bagaimana proses perubahan ISO 22000 versi 2018 dijalankan sesuai dengan standar persyaratan yang ditetapkan.
Berikut ini adalah perubahan ISO 22000 versi 2018.
(1) Tersedianya Konteks Organisasi
Mengidentifikasi kebutuhan terkait dengan konteks organisasi yang ditetapkan untuk mengidentifikasi seluruh issue-issue yang terkait dengan persyaratan organisasi. Serta bagaimana proses penetapan atas konteks organisasi tersebut dijalankan dalam bentuk target untuk dapat mengimplementasikan sistem yang akan dibentuk.
(2) Pengelolaan Resiko
Sistem mengakomodasi resiko peerusahaan dalam proses penetapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Dalam ISO 22000 ini terdapat siklus PDCA Makro yang merupakan manajemen pengelolaan resiko perusahaan dan siklus PDCA mikro. Dimana siklus PDCA mikro itu adalah proses penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan (HACCP).
(3) Pengukuran Efektifitas Control Measure
Melakukan proses evaluasi efektifitas yang terkait dengan control measure yang ditetapkan dalam setiap tingkatan bahaya. Proses penilaian efektifitas itu sendiri dapat dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif untuk memastikan kesesuaiannya.
(4) Mengidentifikasi Pihak Terkait dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan
Melakukan analisis terkait dengan pihak-pihak yang terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang telah ditetapkan. Melakukan tindak lanjut terkait dengan status penerapan dari Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang dimaksud.
Bagaimana perusahaan Anda menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam proses pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Berikut ini adalah perubahan ISO 22000 versi 2018.
(1) Tersedianya Konteks Organisasi
Mengidentifikasi kebutuhan terkait dengan konteks organisasi yang ditetapkan untuk mengidentifikasi seluruh issue-issue yang terkait dengan persyaratan organisasi. Serta bagaimana proses penetapan atas konteks organisasi tersebut dijalankan dalam bentuk target untuk dapat mengimplementasikan sistem yang akan dibentuk.
(2) Pengelolaan Resiko
Sistem mengakomodasi resiko peerusahaan dalam proses penetapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan. Dalam ISO 22000 ini terdapat siklus PDCA Makro yang merupakan manajemen pengelolaan resiko perusahaan dan siklus PDCA mikro. Dimana siklus PDCA mikro itu adalah proses penyusunan Sistem Manajemen Keamanan Pangan (HACCP).
(3) Pengukuran Efektifitas Control Measure
Melakukan proses evaluasi efektifitas yang terkait dengan control measure yang ditetapkan dalam setiap tingkatan bahaya. Proses penilaian efektifitas itu sendiri dapat dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif untuk memastikan kesesuaiannya.
(4) Mengidentifikasi Pihak Terkait dalam Sistem Manajemen Keamanan Pangan
Melakukan analisis terkait dengan pihak-pihak yang terkait dengan Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang telah ditetapkan. Melakukan tindak lanjut terkait dengan status penerapan dari Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang dimaksud.
Bagaimana perusahaan Anda menjalankan Sistem Manajemen Keamanan Pangan? Lakukan proses pencarian referensi eksternal yang tepat dalam proses pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Pangan dalam perusahaan. (amarylliap@gmail.com, 08129369926)
Langganan:
Postingan (Atom)